Monday, April 10, 2017

Menelusuri Perjalanan Eksotis Itang Yunasz



Pada gelaran Jakarta Fashion Week 2015, desainer kenamaan Itang Yunasz menampilkan koleksi Spring/Summer terbarunya melalui show tunggal di panggung Fashion Tent, pada Minggu, 2 November 2014 di Senayan City, Jakarta Selatan. 

Sebelumnya, pria yang sudah terjun di dunia desain mode sejak 1981 ini selalu berkolaborasi dengan desainer busana muslim lain untuk menampilkan koleksinya. Pada show tunggalnya semalam, ia memberanikan diri dengan memperagakan 60 koleksi busana sebagai penutup JFW hari kedua.

Dengan tema Excotic Journey, Itang menjelajahi pesona keanekaragaman tenun dari Timur Indonesia. Guratan tenun ikat yang super besar dan printing ornamen khas Sumba menghiasi seluruh koleksi cantiknya.

Itang juga memberi sentuhan bunga Bali dan anggrek yang dibuat dengan teknik embroidy creative art tiga dimensi.

Beberapa warna yang menghiasi karyanya ini ditampilkan menjadi beberapa bagian. Koleksi pertama diawali dengan berbagai busana pria dan wanita yang didominasi dengan warna hijau dan biru terang. Pada bagian berikutnya perpaduan warna biru terang dengan terakota mewarnai panggung JFW.

Pada bagian ketiga, Itang kembali memilih warna terakota muda. Adapun biru indigo motif ikat, perpaduan warna indigo diselingi dengan terakota menjadi warna pada bagian-bagian selanjutnya. Koleksi pun ditutup dengan hadirnya warna oranye terakota. Warna-warna ini membuat koleksi Itang menjadi begitu mewah dan elegan.

Siluet bertumpuk dalam gaya jaket panjang blus tunik dengan teknik anyaman, gamis dengan tumpukan ruffles pada ujung tunik, dan celana panjang mendominasi koleksi untuk wanitanya kali ini.

Hadirnya rok bergaris yang terlihat abstrak dengan bentuk menyerupai payung dengan efek menggelembung pun menjadi pelengkap koleksi Itang.

Untuk pleated digital skirt, Itang mengaplikasikannya di atas digital printing. Ia juga bereksperimen di atas kain berkualitas seperti organza bertekstur dan scuba foam. Hal ini sangat memberikan sentuhan modern dalam busana siap pakainya.

Sementara untuk busana pria, Itang memberikan ragam potongan dalam koleksinya, seperti t-shirt super baggy, printing pants, long jacket, slim shirt, tunik jaket hingga koko shirt dengan warna yang sama dengan koleksi untuk wanita.

http://m.viva.co.id/life/gaya/554187-foto-menelusuri-perjalanan-eksotis-itang-yunasz

Bosan Pergi ke Mall? Yuk,Bersantai di Taman Kota!



Tempat apa yang sering kamu kunjungi di Jakarta? Mall, sederet kafe, atau gedung pencakar langit yang menjulang? Itu semua memang mudah sekali ditemui di Ibukota. Tapi, kalau bosan, kamu bisa bersantai di taman kota, lho!

Eits, kamu jangan pesimis dulu tentang ruang terbuka hijau di Jakarta. Ada banyak taman yang bisa kamu datangi untuk menghilangkan penat sejenak. Berikut empat pilihannya!

Taman Fatahilah
Taman ini berada di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Letaknya di tengah Museum Fatahilah, Museum Wayang, Keramik dan gedung tua lainnya. Di sana, kamu bisa melakukan banyak aktivitas. Menambah ilmu pengetahuan lewat sejarah, sampai berfoto dengan banyak badut-badut unik dan lucu.

Taman Situ Lembang
Taman ini terletak di jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana ada banyak fasilitas. Seperti tempat pemancingan, toilet, Wi-Fi, bangku taman, taman bermain anak, juga trek jalan berbatu untuk terapi.

Taman Medan Merdeka
Taman ini populer sebagai Monas. Ada banyak sekali Manfaat dari taman ini. Seperti menberikan pendidikan alam, kebon Botani, pengarah, penyejuk, keindahan kota, bio-filter terhadap polusi udara, suara dan cahaya serta mempertinggi fungsi peresapan air.

Taman Martha Tiahahu
Disekitar komplek atau pusat perbelanjaan dan terminal bus Blok M, ada taman yang bisa menjadi tempat bersantai. Taman Martah Tuahahu ini merupakan salah satu taman terluas di Jakarta Selatan, dengan luas 20.960 meter persegi. Adanya air mancur, tugu, termasuk kolam besar merupakan elemen penting yang memperindah lingkungan ini.              

http://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20160330125425-327-120498/bosan-pergi-ke-mall-yuk-bersantai-di-taman-kota/

Serunya Menjelajahi Kota Malang dan Sekitarnya



Kamu punya rencana liburan bersama teman, keluarga atau justru seorang diri? Kota Malang dan sekitarnyabisa jadi pilihan yang tepat. Wilayah ini terbilang lengkap. Kamu bisa merasakan udara yang masih sejuk dengan pegunungan, juga pemandangan pantai yang tidak kalah indahnya.

Berbagai tempat menarik yang bisa kamu kunjungi ada di sini. Ada wisata alam, sejarah, atau kamu sekedar ingin berkeliling kota pun bisa. 
 
Mana saja tempat yang bisa kamu kunjungi? 

Jatim Park
Taman rekreasi Jatim Park dibagi jadi 2 bagian, berada sekitar 20 kilometer dari kota Batu, Malang. Untuk Jatim park 1, ada 36 wahana permainan yang bisa kamu coba. Salah satu yang populer adalah kolam renang raksasa dengan latar belakang patung Ken Dedes, Ken Arok dan Mpu Gading.

Sedangkan Jatim Park 2 memiliki konsep wisata belajar. Ada tiga zona yang disediakan, diantaranya Zona Secreet Zoo (kebun binatang), Zona Museum Satwa serta Pohon inn hotel (rumah pohon). Berbagai sangkar burung raksasa adalah hal menarik yang wajib kamu kunjungi.

Tiket masuk ke Jatim Park Rp60 ribu untuk Senin - Kamis dan Rp75 ribu untuk hari libur. Cukup terjangkau bukan?

Air Terjun Coban Rondo
Lokasi air terjun ini berada di desa Pandansari sekitar 12 kilometer dari kota Batu. Coban Rondo sangat populer karena memiliki pemandangan yang sangat indah dengan dominasi warna hijau tetumbuhan. Tidak jauh dari air terjun, ada labirin dan kamu bisa main petak umpet di sana.

Tiket masuk air terjun Rp3000 untuk parkir kendaraan, kalau kamu ingin bermain di labirin, biayanya Rp15 ribu.

Museum Angkut
Jangan samakan tempat ini dengan museum lainnya. Di sini, kamu bisa mendapatkan pengalaman berfoto di mobil antik dari berbagai tipe. Lokasi museum Angkut ini berada di Kota Batu. Penataan museum paling menarik di Malang ini terbagi atas 10 zona wilayah.

Di sini, kamu akan merasa seperti ada di Hollywood. Berfoto dengan berbagai macam alat transportasi dari waktu ke waktu. Jangan lupa, pastikan baterai ponsel kamu terisi penuh, ya!

Pulau Sempu
Lokasinya sekitar 75 kilometer dari kota Malang. Kamu bisa menyeberang dengan menggunakan kapal motor dari pantai Sendang Biru. Setelah tiba di pulau Sempu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati hutan menuju danau Segara Anakan. Memang, nama dan keindahannya mirip dengan yang ada di Gunung Rinjani, Lombok.

Alun-Alun Batu
Setelah puas jalan-jalan, kamu bisa bersantai di Alun-alun kota Batu. Tempat ini sangat cocok untuk kamu dan keluarga. Buat kamu yang ingin liat suasana kota Batu dari atas, bisa naik wahana Bianglala, dengan biaya Rp3 ribu. Di sekitar Alun-alun terdapat banyak jajanan. Seperti susu murni, ketan bakar, jagung, dan masih banyak lagi.
 
http://student.cnnindonesia.com/inspirasi/20160330125906-327-120501/serunya-menjelajahi-kota-malang-dan-sekitarnya/

Mencari Jejak China di Tanah Betawi


Langit urung menumpahkan air ke bumi pagi itu. Tak ada mendung menggelayut seperti hari-hari sebelumnya. Padahal pada Tahun Baru China atau Imlek, hujan kerap diumpamakan sebagai rezeki turun langit.


Namun hal tersebut tak menyurutkan euforia masyarakat menyambut Imlek yang jatuh pada tanggal 8 Februari 2016. Satu pekan sebelum Imlek, hiasan lampion merah dan atraksi barongsai dengan mudah ditemui di berbagai pusat perbelanjaan di Indonesia, termasuk di ibu kota.

Kondisi ini tentu sangat berbeda ketika kepemimpinan Presiden ke-2 Soeharto. Saat itu, etnis China di Indonesia dilarang merayakan Imlek. Baru di masa Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lah, etnis China di Indonesia bisa bernapas lega.

Gus Dur mengizinkan perayaan Imlek dan sekaligus menetapkannya sebagai hari libur nasional. Meski baru bisa mencicipi manisnya perayaan Imlek pada awal tahun 2000-an, etnis China sesungguhnya sudah ada di Indonesia sejak beratus-ratus tahun yang lalu.

Jika ditelusuri, bangsa China masuk ke Indonesia sejak abad ke-17. Ketika itu, Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) mengajak bangsa China dari daratan bermigrasi ke Indonesia, baik untuk bekerja atau berdagang.

Di Jakarta atau pada saat itu lebih dikenal sebagai Batavia, etnis China tinggal dan berdagang di sepanjang daerah Pintu Besar dan di sekitar sungai Ciliwung. Kini, sejumlah peninggalan mereka masih bisa ditemui dalam wujud bangunan tua.

Bangunan-bangunan ini masih berdiri kokoh di antara gedung-gedung pencakar langit ibu kota. Salah satunya adalah gedung Candra Naya. 

Tak ada yang mengira di balik bangunan megah Hotel Novotel, terselip bangunan tua yang kental dengan budaya China. Di jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Pusat, gedung bernama Candra Naya tersebut seakan tidak ingin tenggelam oleh pesatnya pembangunan gedung bertingkat.

“Gedung Candra Naya ini termasuk ke dalam Modernland dan terakhir masuk sekitar tiga tahun lalu. Tapi khusus gedung ini kita di bawah pengawasan dari Pemprov DKI karena gedung ini termasuk cagar budaya,” ujar Commercial Area Dept Head PT Modernland Realty Tbk, Vivi Chai, kepada VIVA.co.id.

Begitu banyak catatan sejarah menyertai gedung yang dibangun pada awal abad ke-18 atau ke-19 ini. Namun yang pasti, Candra Naya pernah dimiliki seorang pedagang kaya China, Khouw Tian Sek.

Dilansir dari laman Jakarta Tourism, bangunan tersebut juga pernah digunakan sebagai kantor pusat sebuah organisasi bernama Sing Ming Hui pada saat akhir Perang Dunia ke-2. Organisasi ini diketahui lebih banyak terlibat dalam kegiatan sosial, seperti melayani dan menyediakan informasi bagi komunitas China yang menderita karena perang. 

Organisasi Sing Ming Hui kemudian berganti nama pada tahun 1962. Namanya berubah menjadi Tjandra Naja yang kemudian akhirnya menjadi Candra Naya. 

Saat ini gedung Candra Naya terbagi menjadi tiga bagian. Bagian kiri dan kanan disewakan untuk restoran. Ada yang menjadi kedai kopi, ada pula yang menjadi kafe.

Berbeda dengan bagian kiri dan kanan, gedung di bagian tengah tidak diperkenankan untuk komersial. “Hanya boleh untuk pameran saja,” kata Vivi.

Menelusuri bagian tengah gedung, mata akan disuguhkan dengan dua foto di sisi kiri dan kanan dinding. Mereka adalah foto mayor yang sempat tinggal di sana. Masuk ke ruang tengah, terdapat ornamen-ornamen Tionghoa, seperti lampion dan miniatur barongsai. Di sisi kiri, ada ruangan yang memajang berbagai frame tokoh-tokoh Tiongkok.

Suara gemericik air dari kolam ikan yang cukup besar terdengar saat kaki melangkah keluar ruang. Hawa sejuk langsung terasa. Kolam itu dikelilingi patung ikan yang sedang menggigit koin.

Bangunan Candra Naya
Keindahan gedung yang menjadi saksi bisu perjalanan etnis Tionghoa di Jakarta ini rupanya menarik perhatian masyarakat. Dhea salah satunya. Bersama dengan ibu dan sang anak, wanita keturunan Tionghoa ini menyambangi gedung Candra Naya untuk memenuhi rasa penasarannya. 

"Saya lagi jalan-jalan sekitar sini. Lihat gedung ini bareng ibu dan anak saya. Belajar sejarah juga tentang peninggalan China. Kebetulan saya juga keturunan. Bagus banget gedungnya,” ucapnya.

Berburu aksesori monyet api
Dari gedung Candra Naya, perjalanan dilanjutkan ke Petak Sembilan. Kawasan yang berada di sepanjang Jalan Kemenangan III 13 Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat ini, sangat populer sebagai pecinan, tempat perdagangan, dan ibadah. 

Setidaknya terdapat tiga kelenteng di tempat tersebut. Tak heran ketika menginjakkan kaki di kawasan ini, aroma dupa langsung merasuk ke dalam hidung. 

Ada kelenteng Toa Se Bio atau Wihara Dharma Jaya Toasebio dan Wihara Dharma Bhakti yang sudah berusia ratusan tahun. Sedikit bercerita soal Wihara Dharma Bhakti. Wihara terbesar di Jakarta ini memiliki luas sekitar 1.200 meter persegi.

Bangunan kelenteng mengalami beberapa kali perbaikan sejak tahun 1970-an. Setiap harinya, wihara dengan nama lain Kim Tek Ji tersebut didatangi ratusan pengunjung yang ingin bersembahyang.

Wihara ini juga tak luput dari musibah bencana alam dan kebakaran. Pada tahun lalu misalnya, wihara tersebut sempat tergenang banjir hingga semata kaki orang dewasa. Nahas, sebulan kemudian, tepatnya pada 2 Maret 2015, kebakaran melanda Wihara Dharma Bhakti.

Petak Sembilan
Setelah peristiwa kebakaran, rencananya Wihara Dharma Bhakti akan dibangun kembali dengan desain yang sama. Pembangunan ini diperkirakan memakan waktu dua tahun.

Sementara itu sebagai tempat perdagangan, di Petak Sembilan juga berdiri deretan kios-kios yang menjajakan berbagai aksesori khas Tiongkok. Ada lampion, garland, amplop angpau, kaus hingga gantungan kunci bergambar monyet api yang merupakan lambang shio pada tahun ini.

Jelang Imlek, terdapat pula pedagang yang menjajakan teripang. Makanan laut yang juga disebut haisom tersebut biasanya diolah menjadi berbagai menu khas Imlek.

Populer sebagai latar pre-wedding
Setelah puas membeli berbagai aksesori khas Imlek, langkahkan kaki ke Kota Tua. Di sana terdapat satu bangunan yang sangat mencolok dengan warna merah menyala. 

Dinamakan Toko Merah, bangunan ini terletak di Jalan Kali Besar Barat 17, Glodok, Jakarta Barat. Tepatnya, di sisi sungai Ciliwung, bagian dari Roa Malaka. Bila dari kawasan Kota Tua, Anda bisa menempuh dengan berjalan kaki dari sisi jalan sebelah Cafe Batavia, menelusuri pinggir Sungai Ciliwung.

Toko Merah dibangun dengan arsitektur baroque abad ke-18. Mengintip di balik jendela, ornamen-ornamen yang terdapat di bangunan merupakan campuran dekorasi klasik Eropa dan China.

Hal ini tidak mengherankan. Sebab, bangunan tersebut memiliki sejarah yang cukup panjang dan kerap beralih fungsi. Merunut dari sejarah, di masa lalu, Toko Merah merupakan kediaman Willem Baron van Imhoff, yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal VOC periode 1743-1750.

Sejarah juga mencatat, pada 1743-1755, gedung pernah menjadi tempat akademi maritim pertama. Setelah itu, pada 1787-1808 pernah juga digunakan menjadi tempat tinggal sementara pejabat tinggi pemerintahan.
Kemudian pada 1851, bangunan ini dibeli oleh pedagang China yang mengecat semua tembok batu batanya dengan warna merah.  Sejak saat itu bangunan ini dikenal sebagai Toko Merah. Dominasi warna merah tampak baik di luar maupun di dalam ruangan.

Toko Merah
Berdasarkan keterangan yang didapat dari papan informasi, Toko Merah merupakan bangunan kembar, dengan dua rumah yang berada di bawah satu atap. Perpaduan gaya klasik Eropa dan China terlihat dari lantai yang terbuat dari batu di bagian bawah, dan kayu pada bagian atasnya.

Toko Merah menerima sertifikat Sadar Pemugaran pada 1993. Sayangnya, sejak Juli 2015, Toko Merah ditutup untuk umum. Pengunjung hanya bisa menikmati keindahan bagian depan, atau sesekali mengintip melalui jendela.

Meski demikian, Anda bisa memanfaatkan keindahan bata-bata yang dicat merah ini untuk foto pre-wedding dengan tarif Rp150 ribu untuk 15 menit.

Santap kuliner otentik
Lelah berjalan-jalan, waktunya mengisi perut. Perjalanan terakhir kali ini bermuara di Pecenongan, Jakarta Pusat. Papan dengan tulisan ‘Selamat datang di Wisata Kuliner Pecenongan’ siap menyambut pengunjung saat tiba di tempat tersebut. 

Pecenongan
Walau saat ini siapapun juga dapat menemukan berbagai restoran China di berbagai sudut kota Jakarta, tetapi untuk mencoba makanan China otentik dengan suasana pecinan, kunjungan ke restoran kaki lima Pecenongan merupakan keharusan.

Sejak 1970-an, daerah Pecenongan dikenal sebagai pusat kuliner malam. Bermula dari sederetan pedagang kecil yang terus berkembang membentuk komunitas kuliner. 

Kelezatan cita rasa dari kuliner Pecenongan ini semakin terkenal ke seantero Jakarta. Saat ini, banyak kuliner populer bisa ditemui di tempat tersebut, seperti bubur, martabak, dan roti bakar.

Meski demikian, di masa lalu, Pecenongan bukanlah surga kuliner, melainkan tempat agen sepeda dan pertokoan. Sebut saja Rijwielhandel Gebr, Jense dan MF Stolk Rijwielhandel Columbia en Het Fongers Huis.

Di kawasan ini dahulu juga terdapat toko buku dan penerbit Kolff & Co. Kolff & Co, merupakan toko buku serta percetakan pertama di Batavia yang berdiri pada 1848. Pendirinya adalah seorang Belanda bernama Johannes Cornelis Kolff.