Friday, September 23, 2016

Si Tukang Mengeluh yang Muak Sendiri

"Kamu kayaknya jarang banget ngeluh sekarang. Kenapa?"

Ucapan dia membuat saya berpikir. Eh, iya gitu? Masa iya?

Beberapa tahun lalu, saya adalah sosok perempuan pengeluh luar biasa. Macet, kesel. Gojek lama, kesel. Akhir bulan kere, ngutruk. Narasumber cuma ngomong sedikit, ngeluh. Semua tampak tidak menyenangkan dan menjijikan.

Merasa Ica yang berbeda ketika bisa menyimpan keluhan tentang banyak hal. Penat Ibukota, pertemanan, percintaan juga pekerjaan. Poin terakhir menjadi hal yang sangat menjemukan beberapa waktu terakhir.

Entah apa yang kemudian membuat saya bisa berubah cukup signifikan, dengan mengurangi intensitas mengeluh.

Ketika segala hal tampak menyebalkan, saya hanya duduk terdiam di halte Transjakarta. Mengamati orang lalu lalang. Klakson kendaraan yang nyaring. Tanpa keluhan.

Hanya diam. Pikiran kosong. Menelan semua sendiri.

Mungkin beberapa pengalaman tidak menyenangkan, dan rasa muak dengan keluhan sendiri yang membuat saya bisa menguranginya. Kesal juga dengan bunyi-bunyi negatif dalam diri yang terlalu nyaring.

Kebalikannya dengan dia. Dulu, dia adalah sosok yang santai dan jarang sekali mengeluh. Menikmati setiap apa yang dia kerjakan.

Sekarang kondisi seperti sedang terbalik. Saya yang sesantai ini (walau tidak sepenuhnya santai), dan dia yang mumet luar biasa.

Lama kelamaan, menyimpan sendiri pun bisa penuh dan ingin meledak juga. Akhirnya saya memuntahkan semua keluhan yang ada.

Dan, hal yang saya suka adalah, tidak ada adu argumen di sana. Tidak ada keluhan dari keluhan. Justru diskusi tentang pekerjaan kami masing-masing. Ke depan seperti apa dan apa yang akan dilakukan.

Mungkin ada alasan kenapa kami harus jauh, kemarin. Belajar menahan ego yang sangat tinggi dan membenahi diri. Meski prosesnya tetap berjalan sampai saat ini.

Semoga selalu ada hal baik dan tetap saling menguatkan.