Tuesday, May 17, 2016

Tentang Kaktus

"Aku tau kau tidak bisa merawat bunga, makanya aku beri kau kaktus," sebuah percakapan pada satu drama korea yang masih jadi misteri.

Sebelum ada drama (yang entah judulnya apa) di tahun 2005, saya sudah menaruh hati pada tumbuhan berduri ini. Tapi belum besar, belum jatuh, sejatuh sekarang.

Dialog itu menguatkan jatuh-jatuh saya pada kaktus. Menggelitik dan memberi senyum simpul di bibir.

Kemudian sampai sekarang, kalimat itu seperti mantra, selalu melekat di memori saya yang minim.

Seringkali orang heran, kenapa harus kaktus? Dari segi bentuk, dia tidak genic, berduri, terkesan galak dan tidak ramah pada manusia.

Alasan sederhana yang paling bisa diterima adalah, perawatannya yang mudah.
Tinggal disiram dua minggu sekali lalu taruh di tempat panas. selesai.

"Pantes suka kaktus, cocok buat kamu yang pemalas" kata salah satu teman lama.

Kalau mengacu pada kebiasaan saya, itu sangat benar. Kaktus cocok untuk siapapun yang kurang bisa merawat tanaman. 



Tapi di balik itu semua, kaktus punya makna tersendiri. Kedudukannya setara dengan kereta dan seafood. Semacam mood booster di kala penat. 

Ada rasa bahagia kalau melihat dia di sebuah taman, di pinggir jalan, atau bahkan di pekarangan rumah orang.

Hijau, berdiri, tinggi menjulang, dengan duri yang mengelilingi tubuhnya. Seakan minta didatangi, dikunjungi, mengajak bicara, memberi ruang untuk saya bercerita. Selonjoran di tanah, sambil sesekali menatapnya, bersandar. Walau berduri.

Dan sekarang, saya sedang rindu. Bukan sekedar bertemu dia di jalan, tapi benar-benar mengunjungi, bercakap-cakap dalam diam dengannya. 

Semoga selalu ada waktu untuk mengunjungimu, ya! Sampai ketemu! 


Thursday, May 5, 2016

Sesederhana Baso Sehat

Perempuan memang aneh. Satu fase dalam satu bulan, dia bisa keluar dari kebiasaan. Tiba-tiba menyebalkan, kekesalan meluap-luap, malas melakukan apapun, sampai menangis.

Alasannya? Saya yakin alasan itu tidak bisa diterima pakai logika.

Hanya karena charger ponsel tertinggal di kantor, kesalnya seperti kehilangan ponsel.

Atau juga karena makanan terlalu panas, jadi kami -kaum moody- menyalahkan siapapun yang ada di depan. Kalau ada tukang dagangnya, disemprot lah dia. Kalau sendirian di kamar? Ngedumel, menggerutu, marah-marah seakan ada kesalahan fatal.

Luapan emosi seperti itu pasti sering kamu alami, juga saya. Tapi buat saya, lebih sering adem ayem tanpa drama, daripada meledak-ledak.

Tapi (lagi) dua bulan terakhir seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam diri. Dramanya melebihi sinetron murahan yang ada di TV.

Maret lalu, amarah mendominasi. Antagonis. Bawaannya ingin galakin orang tanpa sebab. Mencari-cari alasan paling masuk akal yang bikin dia merasa salah. Keluarlah kalimat-kalimat yang tidak seharusnya.

Setelah itu? Saya minta maaf dan merasa bodoh sekali.

"Ngapain amat marahin orang itu ya" gumam saya.

Berbeda dengan bulan ini. Melankolis cenderung memalukan. Sangat.

Di Sabtu sore setelah bekerja, saya pergi bersama teman. Mungkin hari itu memang menyebalkan. Hujan deras, memesan ojek online tapi tanpa respon. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang naik bus transjakarta andalan. Menuju halte, kehujanan, kepala pusing, kuota modem wifi habis, salah tanggal beli pulsa. Semua kekesalan numpuk jadi satu.

Sesampainya di halte dekat kost, saya berjalan cepat, kepala sedikit menunduk karena hujan rintik-rintik. Masuk gang, gerobak bakso langganan baru bersandar, dan saya memutuskan beli seporsi bakso yang harganya hanya 8 ribu.

Pintu gerbang di buka, menaiki anak tangga dan tidak ada semangat sama sekali. Lelahnya membuat saya ingin berteriak.

Teriakan saya pun hampir meledak, tapi malah berubah jadi tangis, ketika membuka tas.

Ternyata saya sudah punya satu porsi KFC dan spontan mengumpat

"Buat apa lo beli baso sehat caaaaaa, kan udah punya kfc" lalu menangis penuh kekesalan.

Seperti orang yang baru patah hati, saya memutuskan mandi -karena memang pusing juga efek hujan- Dan masih menangis.

Kekesalan belum terpuaskan. Lalu saya bercerita panjang lebar sambil sesengukan lewat telepon, pada seseorang di Timur Jakarta. Responnya? Tertawa puas.

"Hahahahahahahaha makin aneh aja. Nangis gara-gara beli baso. Yaudah nanti buku pengaturan keuangan aku balikin ke kamu ya. Biar bisa enggak beli baso pas udah punya ayam," katanya dengan tawa yang khas.

Aku hanya menggerutu sambil diselip tawa malu. 

Perempuan memang sulit dimengerti. Padahal dia sudah paham kalau itu memalukan, tapi masih dilakukan. Seperti kena hipnotis. 

Heran.



Bandung, 4 Mei 2016


Sambil mengingat kejadian memalukan itu