Monday, March 28, 2016

Sifat Karaoke: Personal

Selain makan dan tidur, karaoke adalah cara paling ampuh melepas penat dalam waktu singkat. Setidaknya itu dirasakan perempuan macam saya, yang suka menyumbangkan lagu.

Bukan, bukan menyumbangkan lagu senang menyanyi dengan suara merdu. Tapi lebih tepatnya membuat lagu menjadi sumbang.

Iya, menyumbangkan lagu dalam arti sebenarnya. Kata sifat bukan kata kerja. Sebutan halus dari kata perusak lagu.Hehehe.

Kembali ke pembahasan karaoke. Di kala pekerjaan yang bikin pengen muntah, orang-orang yang punya banyak topeng, dan masalah hati, saya lebih memilih mengajak teman dekat untuk menyumbangkan lagu di bilik itu.

Kenapa teman dekat?

Begini, menurut saya, memilih teman karaoke itu enggak bisa sembarangan (ini bukan mengarah ke karaoke aneh-aneh ya). Ketika seseorang (saya) karaoke, mau tidak mau, sifat aslinya akan terlihat. Jelas. Cenderung lebih liar dari biasa.

Playlist lagu yang dipilih pun bisa menggambarkan suasana hati yang nyanyi. Misal, lagi galau sengsara gundah gulana, lagu enggak jauh dari Tulus, Kahitna, Adele atau siapa lagi lah itu.

Ada juga yang ingin teriak-teriak, seru-seruan, melepas penat, dan kekesalan pada seseorang atau banyak. Biasanya lebih memilih yang bikin joged-joged dan teriak. Macam lagu dangdut, rock, atau apalah kesukaan mereka.

Tapi ada juga sih yang nyanyi lagu pelan, nadanya teriak-teriak.

Nah, gimana kalau 'salah' milih partner atau terjebak di orang enggak (terlalu) dikenal saat berkaraoke?

Suasana ruangan pasti bakal hening-hening bingung. Berusaha 'liar' tapi ternyata kurang didukung dengan teman-teman yang lain.

Ataaaau, gatel banget ingin nyanyi tapi gengsi? Gara-gara orang di sekitar enggak terlalu akrab, canggung dan malu?

Saya pernah ada di posisi itu.

Situasinya selesai liputan, diajak karaoke dengan ruangan super besar, bareng rekan kerja plus klien. Yaa mungkin buat sebagian orang biasa kali ya. Tapi buat saya itu aneh banget.

Ternyata memilih teman berkaraoke enggak bisa sembarangan dan sifatnya agak personal.

Malu juga ketauan liarnya sama orang yang baru kenal. Apalagi gebetan.

Tuesday, March 22, 2016

Maaf yang Tidak Terbatas

Menginjak usia dua-puluhan, hal yang paling sering wara-wiri di sosial media adalah seputar pernikahan. Mulai dari foto lamaran dengan cincin yang tersemat di jari manis, membagikan seragam ke teman terdekat, bridal shower --yang ini memang lagi happening--, akad nikah, resepsi, hanimun, foto testpack, sekian bulan kemudian hasil USG, lalu melahirkan, dan seterusnya.

Bukan, saya bukan iri atau semacamnya. Hanya mengamati apa yang membanjiri timeline di sosial media saya pribadi.

Kemudian saya menggumam, "oh ternyata ini memang fase-nya ya?"

Mungkin beberapa tahun lagi, fasenya bergeser. Mengantar anak sekolah - hamil anak kedua - aktivitas arisan - pekerjaan - dan seterusnya. 

Sebenarnya itu semua tidak bisa dihindari. Di usia segitu memang lagi 'musim-musimnya'. Bisa juga dikatakan waktu yang paling ideal.

Semakin sering menerima undangan, saya semakin sering bertanya pada teman yang akan menikah itu.

"Kok lo bisa yakin nikah sama dia?"

Terdengar kurang ajar, mungkin. Apalagi kalau ditanyakan pada teman yang kurang begitu dekat. Tapi sebenarnya itu hal sangat mendasar.

Sayang atau cinta saja tidak akan pernah cukup, kan?

Jawabannya juga beda-beda.

"Ya, gimana ya. Gue yakin aja gitu bisa bahagia sama dia"

"Dia bisa nerima aku yang kayak gini"

"Apaan sih ca? hahaha. Degdegan gue ditanya gitu"

"Karena, ibadah. Insha Allah, ca"


Sampai pada akhirnya saya menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya.

"Karena aku punya maaf yang enggak terbatas buat dia"


Mendengar jawaban itu, saya terhenyak. Maaf-yang-tidak-terbatas.

Iya, sebuah hubungan yang diikat dalam satu payung pernikahan, masing-masing dari mereka harus punya maaf yang tidak terbatas. Tidak hanya sekedar memaafkan kesalahan, tetapi juga rasa maklum karena kedua pasangan masih sama-sama belajar. Proses belajar pun akan berlangsung sampai nanti, seumur hidup.

Jawaban teman saya pun menjadi pertanyaan untuk saya sendiri

Sudahkah saya dan kamu punya maaf yang tidak terbatas pada seseorang?