Sunday, December 20, 2015

1.02 AM

Jakarta, 19 Desember 2015

melupakan/me·lu·pa·kan/ v 1 lupa akan; tidak ingat akan: sekali-kali tidak boleh ~ nasihat orang tua; 2 menjadikan lupa; menghapus dari ingatan: 3 melalaikan; tidak mengindahkan

Seringkali orang menginginkan lupa untuk banyak atau sedikit hal. Seperti ketidaksukaan pada sayuran, buah, binatang melata, serangga, peristiwa, perasaan, juga manusia.

Biasanya, rasa lupa dibutuhkan karena sesuatu atau banyak hal itu memiliki kesan buruk di masa lalu. Membuat trauma, enggan untuk lebih dekat lagi. Seperti seorang teman yang ditakut-takuti mentimun sewaktu kecil, membuatnya ogah bahkan takut melihat sayuran hijau itu.

Juga saya yang tubuh ini menolak bercampur dengan satu kandungan di dalam rambutan. Bila buah yang masih bersaudara dengan leci itu menyatu bersama liur di dalam mulut, leher terasa gatal, menimbulkan bentol-bentol seperti terkena ulat bulu.

Saya --dan mungkin teman saya-- ingin lupa rasa takut dan penolakan terhadap hal itu. Terganggu? Jelas, wong dia tidak salah apa-apa kok dimusuhi?

Tapi urusan akan berbeda bila bersinggungan dengan hati.

Rasa lupa sering disangkutpautkan dengan sakit. Terluka begitu dalam, menyusup ke dalam anatomi tubuh paling sensitif bernama hati.

Sayangnya, kebutuhan banyak orang kepada si lupa ini sulit. Saya-kamu-kalian baru bisa lupa, tidak ingat pada beberapa hal itu bila mengalami satu insiden, yang merusak otak dan ingatan. 

Karena sebenarnya, yang dibutuhkan bukan lupa, melainkan sikap abai. Mengabaikan, tidak lagi peduli. Tidak lagi merasa hal itu penting.

Mengingat dia yang sudah membuat luka di sana -di ruang sensitif- adalah hal wajar. Menjadi tidak wajar ketika mengingat segala yang pernah dialami bersama, lalu dikenang, digali, terus menerus. Sehingga membongkar bahkan membobol benteng yang pada awalnya dibangun kokoh, tapi kembali lembek, seperti semen terlalu banyak air. 

Keinginan seseorang untuk melupakan hal buruk seringkali memaksa. Terus menerus tidak ingin ingat lagi. 
Menghindar bahkan sampai memusuhi. Padahal semakin berusaha melupakan, itu akan semakin ingat.

Mungkin ini bukan jurus terjitu. Tapi rasanya lebih manusiawi.

Mengabaikan, perlahan. Membuat itu terasa biasa saja, tidak penting, tidak berpengaruh apa-apa.

Seperti usaha saya mengabaikan semua sudut kota Jakarta yang seakan mengajak kembali. Deretan tempat makan, mulai kios kaki lima hingga cafe mahal.

Mengabaikan kebiasaan sekian tahun bercerita, panjang lebar, menjadikanmu tempat berbagi keluh kesah.

Mengabaikan suara dengkur yang selalu terdengar setiap selesai cerita.

Mengabaikan humor-humor khas yang orang lain tidak akan mengerti.

Mengabaikan alunan musik yang pernah didengar bersama.

Mengabaikan kebiasaan diskusi sederhana. Sesederhana belanja bulanan atau beli sepatu.

Mengabaikan rayuan-rayuan khas setiap ingin beli ini itu.

Mengabaikan keasingan seperti ini yang tidak pernah terjadi selama 5 tahun terakhir.

Mengabaikan, menganggap tidak lagi penting. Tidak lagi punya pengaruh. Perlahan. Meski sulit. Terlalu.

Dan, yap. Saya baru saja menjilat air liur sendiri

"Menjadi tidak wajar ketika mengingat segala yang pernah dialami bersama, lalu dikenang, digali, terus menerus,"

Bangsyat memang. NGOMONG DOANG BISANYA LU CA


----------------------------------------------------------------------------

Daaaan ini jadi kebiasaan banget. Harus pemanasan dulu di sini, sebelum nranskrip dan nulis liputan khusus yang deadline-nya hari selasa. HUWAAAAAAAAAAAAAAAAA