Wednesday, June 21, 2017

Tentang Pria yang (Katanya) Selalu Salah

"kenapa toilet cewek panahnya ada di kanan? Karena cewek selalu benar dan laki selalu salah"

"Kalau ada cewek nabrak tembok, temboknya yang minta maaf"

Apalagi ya kalimat-kalimat nyeleneh soal keselalubenaran perempuan dan keselalusalahan laki-laki.

Myeh. Kosakata macam apa itu, ca.

Anyway, perempuan biasanya (hampir pasti sih) mengalami rasanya gengsi minta maaf duluan. Yaaa paling enggak, bikin satu situasi yang bikin laki-laki minta maaf duluan.

Licik ya? Memang. Hahahahaha. Saya suka begitu :p

Tapi sebenarnya, dari pengamatan saya yang amatir ini, bukan si tulang rusuk laki-laki ini yang selalu benar. Tapi justru si empunya tulang rusuk.

Hmm begini maksudnya, tanpa disadari, laki-laki lah jenis mahluk yang selalu benar, dan perempuan yang sering salah.

Mari dirunut per kasus.

Ada perempuan, enggak cantik tapi menarik. Berpakaian agak terbuka, celana panjang, blus lengan pendek dengan kalung di lehernya untuk mempercantik. Rambut diikat asal karena baru pulang kerja.

Pas lagi jalan, digodalah dia sama abang-abang di gang rumahnya. Bahkan sampai terjadi hal yang enggak diinginkan.

Lalu, apa yang paling nyaring terdengar?

"Si Mbaknya sih, bajunya kebuka-buka. Harusnya ditutup biar gak ngundang nafsu"

Padahal birahi si jantan yang harus dikendalikan.

Atau,

Dalam sebuah hubungan, baik itu kekasih atau pasangan yang sudah menikah, hal-hal bahagia pasti selalu hadir. Terutama di masa awal-awal.

Kemudian datanglah sesosok perempuan, yang sebenarnya enggak bermaksud mengganggu. Tapi ya timing pas mantap untuk melakukan demikian, karena si laki yang senang dengan kehadirannya. Mungkin karena melengkapi yang enggak ada.

Lalu siapa yang disalahkan? Perempuannya. Dikira menggoda pasangan orang atau enggak bisa menahan diri.

Kasus lain.

Ada satu keluarga, Suami, Istri, dan dua anaknya. Kalau anaknya kurus kerempeng seperti enggak keurus, mesti omongan yg keluar "dikasih makan gak sih sama ibunya" atau "ibunya enggak bisa ngurus anak apa ya"

Lagi-lagi emaknya yg jadi objek. Padahal emang anaknya dikasih makan sebanyak apapun juga emang tipe badannya junkies.

Atau,

Ada pasangan baru menikah. Si suami terlihat kucel karena faktor jenis pekerjaannya di proyek-proyek. Si istri yang bakal kena cap 'gak bisa ngurus suami'. Padahal mau didandani kayak gimana juga, maksimalnya ya segitu~

Dan masih banyak kasus lainnya~

Ibu saya pernah bilang, jadi perempuan itu berat karena punya beban sebagai paket all in one. Koki, bendahara, guru, teman, 'bank', psikolog, dokter, dan sebagainya. Peran itu bisa saja dilakoninya dalam waktu yang bersamaan.

Pria juga memiliki peran yang berat, menanggung semua yang ada di dalam keluarga. Tapi kalau ada kesalahan dalam prosesnya, yang disorot siapa? :)


Jakarta, 21 Juni 2017
Tentang ica yang belajar jadi perempuan yang baik dan benar.

Versi dirinya sendiri :)

No comments:

Post a Comment