Saturday, December 10, 2016

Long weekend: Bandung penuh. Bandung macet.

"Nanaonan sih orang Jakarta weekend ke Bandung? Miminuhan wae! Macet"

Siapa yang sering mengumpat begitu?

Saya. Hahahahahahaha!

Siapa sih yang enggak kesal mau jalan-jalan menikmati hari libur, malah nemu macet? Ditambah klakson dan kendaraan yang nyelip-nyelip?
 
Entah di tahun berapa, saya pernah nulis status di facebook kira-kira gini,

"Selamat libur panjang! Selamat untuk warga bandung yang tidak bisa menikmati kotanya sendiri. Macet dimana-mana"
 
Saya ingat gara-gara buka timehop HAHA.

Yaa iya sih. Saya sebagaaaai anak yang lahir di sini tapi bukan berdarah sunda pun sebal. Mau liburan keganggu sama mereka yang datang dari negara api, berduyun-duyun ke negeri sejuk ini untuk memadamkan otak.

Endingnya malah sumpek juga. Blah.

Ngalamin sendiri kok. Dulu paling malas keluar rumah kalau lagi begini. Sarijadi - IP aja bisa sejam, padahal naik motor dan itu jaraknya deket.

Mending di rumah, makan tidur makan tidur. Internetan. Jadi babi bunting.

Kemudian cara menyikapi long weekend ini jadi berubah sejak negara api menyerang. Ngg maksutnya sejak kerja di Jakarta.

Dikerucutkan, ada dua faktor yang bikin Bandung sangat genic:

1. Pulang karena rumahnya di sini.
2. Menghabiskan uang alias foya-foya

Poin pertama, itu saya.

Semua orang butuh pulang. Si Ica juga. Pun manusia yg berjejal setiap hari di Ibukota. Mereka berasal dari banyak kota, termasuk Bandung. Sekalinya ada waktu libur panjang, dimanfaatkan sebaik mungkin.

Ya gimana? Mumpung ada waktu ditambah jarak yang terbilang dekat bisa ditempuh tol.

Yaa kalau lancar bisa dua jam setengah.

Kalau. Lancar. Ya.

Misalkan macet, mereka rela macet-macetan di tol, nahan laper, ngantuk sampe kebelet pipis buat pulang.

Beda cerita kalau memilih naik kereta ya. Kayak saya barusan yang cuma tiga jam HAHAHAHA.

Bayangkan ada berapa puluh, atau ratus, atau ribuan (?) orang Bandung yang kerja di Ibukota, lalu pulang dalam waktu yang bersamaan. Jelas. Kota tercinta ini pasti sumpek bin dukdek.

Sebagai warga Bandung yang kerja di negara api, pernah ngerasa kesel. Harus menempuh 7 jam perjalanan. Mau ngomel jadi pasrah.

Terus mikir, ini semua orang mau pulang. Bukan kamu aja kan yang mau ketemu orang terkasih? (AZEEEEK TERKASIH).

Kemudian tertunduk malu. Malu buat ngomel. Jadi ditelen aja. Bulet-bulet.

Tapi yaa, beda cerita kalau mereka termasuk golongan dua. Enggak ada keperluan untuk nge-charge mental kok menuh-menuhin Bandung. Hih!

LAH. maap.

Yah, jadi, ya nikmati aja. Berarti Bandung punya dua magnet. Untuk pulang dan liburan.

Dua duanya seperti refreshing. Aaaah, betapa mulianya kamu, Bandung. Bisa memperbaiki suasana hati orang.

Selamat menikmati macet! Jangan buang sampah dan meludah sembarangan! Geuleuh.





Bandung, 10 Desember 2016
Efek gabisa tidur.

Monday, December 5, 2016

14.03 PM

Kamu tadi makan siang dimana? Lopi?

Hah? Iya lopi.

Ooh, lopi. Kalo aku lopyu. Halah~
...
...
HAHAHAHAHAHAHAHA

----

Percakapan sore menjelang malam, di perempatan jalan, di atas motor, saat ia menjemput pulang selepas kerja. Bagi orang lain mungkin itu biasa, malah enggak-banget. Tapi berbeda untuk saya.

Awalnya tertawa, lalu terselip senyum.

Sebentar, dia kalau baca ini pasti kesenengan. Ah biarin. Sekali-sekali.

Hmm.. Oke mari mulai.

Hubungan saya dan dia itu aneh. Sangat aneh. Empat tahun lalu dia meminta saya menemaninya, yang dikira menemani pergi beli sesuatu, ternyata menemaninya dalam perjalanan hidup.

Begitu kaku, sangat dia.

Saya terdiam. Kemudian mengiyakan satu hari setelahnya.

Cerita pun di mulai. Perjalanan dengan penuh pembuktian, pasang surut, berkelok-kelok, bahkan sampai hancur di tahun lalu.

Di perjalanan setahun tanpa dia, ternyata ada proses refleksi diri, berpikir dengan berbagai cara agar saya bisa melakukan semua dengan biasa saja, tanpa dia.

Jalan-jalan, bertemu dengan teman baru, liburan bersama. Naik gunung, keretaan, apapun saya lakukan.

Sampai pada satu titik, saya lelah lari. Akhirnya diam dan melakuan rutinitas biasa. Dipertemukan dengan berbagai orang yang dianggap bisa menjadi distraksi menyenangkan.

Tapi lama-lama, jatuhnya malah jadi takut. Malas. Biasa saja dan cenderung apatis.

Kemudian saya dan dia bertemu kembali di waktu yang mungkin bisa dibilang pas. Entah benar atau tidak.

Pada akhirnya memahami diri sendiri, ternyata yang saya butuhkan adalah sosok seperti dia. Yang bisa memperlakukan saya dengan caranya sendiri.

Tidak perlu manis setiap hari,

Tidak perlu sering mengungkapkan rasa dengan kata,

Tidak perlu memperlakukan saya seperti perempuan lemah, tapi tetap membuat saya merasa dibutuhkan.

Cukup dengan caranya sendiri,

yang kaku kalau memuji dan gugup ketika dipuji.

yang bisa membuat saya merasa dibutuhkan.

yang bisa membuat saya aman dan nyaman sekaligus.

Semoga selalu ada hal baik di perjalanan ini dan dimudahkan. Aamiin.






Jakarta, 5 Desember 2016
Selesai buang air.