Tuesday, March 22, 2016

Maaf yang Tidak Terbatas

Menginjak usia dua-puluhan, hal yang paling sering wara-wiri di sosial media adalah seputar pernikahan. Mulai dari foto lamaran dengan cincin yang tersemat di jari manis, membagikan seragam ke teman terdekat, bridal shower --yang ini memang lagi happening--, akad nikah, resepsi, hanimun, foto testpack, sekian bulan kemudian hasil USG, lalu melahirkan, dan seterusnya.

Bukan, saya bukan iri atau semacamnya. Hanya mengamati apa yang membanjiri timeline di sosial media saya pribadi.

Kemudian saya menggumam, "oh ternyata ini memang fase-nya ya?"

Mungkin beberapa tahun lagi, fasenya bergeser. Mengantar anak sekolah - hamil anak kedua - aktivitas arisan - pekerjaan - dan seterusnya. 

Sebenarnya itu semua tidak bisa dihindari. Di usia segitu memang lagi 'musim-musimnya'. Bisa juga dikatakan waktu yang paling ideal.

Semakin sering menerima undangan, saya semakin sering bertanya pada teman yang akan menikah itu.

"Kok lo bisa yakin nikah sama dia?"

Terdengar kurang ajar, mungkin. Apalagi kalau ditanyakan pada teman yang kurang begitu dekat. Tapi sebenarnya itu hal sangat mendasar.

Sayang atau cinta saja tidak akan pernah cukup, kan?

Jawabannya juga beda-beda.

"Ya, gimana ya. Gue yakin aja gitu bisa bahagia sama dia"

"Dia bisa nerima aku yang kayak gini"

"Apaan sih ca? hahaha. Degdegan gue ditanya gitu"

"Karena, ibadah. Insha Allah, ca"


Sampai pada akhirnya saya menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya.

"Karena aku punya maaf yang enggak terbatas buat dia"


Mendengar jawaban itu, saya terhenyak. Maaf-yang-tidak-terbatas.

Iya, sebuah hubungan yang diikat dalam satu payung pernikahan, masing-masing dari mereka harus punya maaf yang tidak terbatas. Tidak hanya sekedar memaafkan kesalahan, tetapi juga rasa maklum karena kedua pasangan masih sama-sama belajar. Proses belajar pun akan berlangsung sampai nanti, seumur hidup.

Jawaban teman saya pun menjadi pertanyaan untuk saya sendiri

Sudahkah saya dan kamu punya maaf yang tidak terbatas pada seseorang?

6 comments:

  1. hehehe makasi kak retaa! mengutip dari temenku yang bikin mikir :))

    ReplyDelete
  2. iya ibu di kantorku, kalo nikah itu kuncinya tiga :
    maaf, ikhlas, sabar

    dan aku merasakannya sekarang, padahal baru juga 3thn nikah yak baahahaha

    ReplyDelete
  3. teopi: kata ibu di kantor teopi maksutnya? hahaahaha. harus tiga hal itu harus enggak terbatas :))

    ReplyDelete
  4. caaa ijin bikin quotes di tumblr hehe

    ReplyDelete
  5. Kayaknya aku belum punya maaf seluas itu jadi introspeksi diri

    ReplyDelete