Saturday, December 10, 2016

Long weekend: Bandung penuh. Bandung macet.

"Nanaonan sih orang Jakarta weekend ke Bandung? Miminuhan wae! Macet"

Siapa yang sering mengumpat begitu?

Saya. Hahahahahahaha!

Siapa sih yang enggak kesal mau jalan-jalan menikmati hari libur, malah nemu macet? Ditambah klakson dan kendaraan yang nyelip-nyelip?
 
Entah di tahun berapa, saya pernah nulis status di facebook kira-kira gini,

"Selamat libur panjang! Selamat untuk warga bandung yang tidak bisa menikmati kotanya sendiri. Macet dimana-mana"
 
Saya ingat gara-gara buka timehop HAHA.

Yaa iya sih. Saya sebagaaaai anak yang lahir di sini tapi bukan berdarah sunda pun sebal. Mau liburan keganggu sama mereka yang datang dari negara api, berduyun-duyun ke negeri sejuk ini untuk memadamkan otak.

Endingnya malah sumpek juga. Blah.

Ngalamin sendiri kok. Dulu paling malas keluar rumah kalau lagi begini. Sarijadi - IP aja bisa sejam, padahal naik motor dan itu jaraknya deket.

Mending di rumah, makan tidur makan tidur. Internetan. Jadi babi bunting.

Kemudian cara menyikapi long weekend ini jadi berubah sejak negara api menyerang. Ngg maksutnya sejak kerja di Jakarta.

Dikerucutkan, ada dua faktor yang bikin Bandung sangat genic:

1. Pulang karena rumahnya di sini.
2. Menghabiskan uang alias foya-foya

Poin pertama, itu saya.

Semua orang butuh pulang. Si Ica juga. Pun manusia yg berjejal setiap hari di Ibukota. Mereka berasal dari banyak kota, termasuk Bandung. Sekalinya ada waktu libur panjang, dimanfaatkan sebaik mungkin.

Ya gimana? Mumpung ada waktu ditambah jarak yang terbilang dekat bisa ditempuh tol.

Yaa kalau lancar bisa dua jam setengah.

Kalau. Lancar. Ya.

Misalkan macet, mereka rela macet-macetan di tol, nahan laper, ngantuk sampe kebelet pipis buat pulang.

Beda cerita kalau memilih naik kereta ya. Kayak saya barusan yang cuma tiga jam HAHAHAHA.

Bayangkan ada berapa puluh, atau ratus, atau ribuan (?) orang Bandung yang kerja di Ibukota, lalu pulang dalam waktu yang bersamaan. Jelas. Kota tercinta ini pasti sumpek bin dukdek.

Sebagai warga Bandung yang kerja di negara api, pernah ngerasa kesel. Harus menempuh 7 jam perjalanan. Mau ngomel jadi pasrah.

Terus mikir, ini semua orang mau pulang. Bukan kamu aja kan yang mau ketemu orang terkasih? (AZEEEEK TERKASIH).

Kemudian tertunduk malu. Malu buat ngomel. Jadi ditelen aja. Bulet-bulet.

Tapi yaa, beda cerita kalau mereka termasuk golongan dua. Enggak ada keperluan untuk nge-charge mental kok menuh-menuhin Bandung. Hih!

LAH. maap.

Yah, jadi, ya nikmati aja. Berarti Bandung punya dua magnet. Untuk pulang dan liburan.

Dua duanya seperti refreshing. Aaaah, betapa mulianya kamu, Bandung. Bisa memperbaiki suasana hati orang.

Selamat menikmati macet! Jangan buang sampah dan meludah sembarangan! Geuleuh.





Bandung, 10 Desember 2016
Efek gabisa tidur.

Monday, December 5, 2016

14.03 PM

Kamu tadi makan siang dimana? Lopi?

Hah? Iya lopi.

Ooh, lopi. Kalo aku lopyu. Halah~
...
...
HAHAHAHAHAHAHAHA

----

Percakapan sore menjelang malam, di perempatan jalan, di atas motor, saat ia menjemput pulang selepas kerja. Bagi orang lain mungkin itu biasa, malah enggak-banget. Tapi berbeda untuk saya.

Awalnya tertawa, lalu terselip senyum.

Sebentar, dia kalau baca ini pasti kesenengan. Ah biarin. Sekali-sekali.

Hmm.. Oke mari mulai.

Hubungan saya dan dia itu aneh. Sangat aneh. Empat tahun lalu dia meminta saya menemaninya, yang dikira menemani pergi beli sesuatu, ternyata menemaninya dalam perjalanan hidup.

Begitu kaku, sangat dia.

Saya terdiam. Kemudian mengiyakan satu hari setelahnya.

Cerita pun di mulai. Perjalanan dengan penuh pembuktian, pasang surut, berkelok-kelok, bahkan sampai hancur di tahun lalu.

Di perjalanan setahun tanpa dia, ternyata ada proses refleksi diri, berpikir dengan berbagai cara agar saya bisa melakukan semua dengan biasa saja, tanpa dia.

Jalan-jalan, bertemu dengan teman baru, liburan bersama. Naik gunung, keretaan, apapun saya lakukan.

Sampai pada satu titik, saya lelah lari. Akhirnya diam dan melakuan rutinitas biasa. Dipertemukan dengan berbagai orang yang dianggap bisa menjadi distraksi menyenangkan.

Tapi lama-lama, jatuhnya malah jadi takut. Malas. Biasa saja dan cenderung apatis.

Kemudian saya dan dia bertemu kembali di waktu yang mungkin bisa dibilang pas. Entah benar atau tidak.

Pada akhirnya memahami diri sendiri, ternyata yang saya butuhkan adalah sosok seperti dia. Yang bisa memperlakukan saya dengan caranya sendiri.

Tidak perlu manis setiap hari,

Tidak perlu sering mengungkapkan rasa dengan kata,

Tidak perlu memperlakukan saya seperti perempuan lemah, tapi tetap membuat saya merasa dibutuhkan.

Cukup dengan caranya sendiri,

yang kaku kalau memuji dan gugup ketika dipuji.

yang bisa membuat saya merasa dibutuhkan.

yang bisa membuat saya aman dan nyaman sekaligus.

Semoga selalu ada hal baik di perjalanan ini dan dimudahkan. Aamiin.






Jakarta, 5 Desember 2016
Selesai buang air.

Friday, September 23, 2016

Si Tukang Mengeluh yang Muak Sendiri

"Kamu kayaknya jarang banget ngeluh sekarang. Kenapa?"

Ucapan dia membuat saya berpikir. Eh, iya gitu? Masa iya?

Beberapa tahun lalu, saya adalah sosok perempuan pengeluh luar biasa. Macet, kesel. Gojek lama, kesel. Akhir bulan kere, ngutruk. Narasumber cuma ngomong sedikit, ngeluh. Semua tampak tidak menyenangkan dan menjijikan.

Merasa Ica yang berbeda ketika bisa menyimpan keluhan tentang banyak hal. Penat Ibukota, pertemanan, percintaan juga pekerjaan. Poin terakhir menjadi hal yang sangat menjemukan beberapa waktu terakhir.

Entah apa yang kemudian membuat saya bisa berubah cukup signifikan, dengan mengurangi intensitas mengeluh.

Ketika segala hal tampak menyebalkan, saya hanya duduk terdiam di halte Transjakarta. Mengamati orang lalu lalang. Klakson kendaraan yang nyaring. Tanpa keluhan.

Hanya diam. Pikiran kosong. Menelan semua sendiri.

Mungkin beberapa pengalaman tidak menyenangkan, dan rasa muak dengan keluhan sendiri yang membuat saya bisa menguranginya. Kesal juga dengan bunyi-bunyi negatif dalam diri yang terlalu nyaring.

Kebalikannya dengan dia. Dulu, dia adalah sosok yang santai dan jarang sekali mengeluh. Menikmati setiap apa yang dia kerjakan.

Sekarang kondisi seperti sedang terbalik. Saya yang sesantai ini (walau tidak sepenuhnya santai), dan dia yang mumet luar biasa.

Lama kelamaan, menyimpan sendiri pun bisa penuh dan ingin meledak juga. Akhirnya saya memuntahkan semua keluhan yang ada.

Dan, hal yang saya suka adalah, tidak ada adu argumen di sana. Tidak ada keluhan dari keluhan. Justru diskusi tentang pekerjaan kami masing-masing. Ke depan seperti apa dan apa yang akan dilakukan.

Mungkin ada alasan kenapa kami harus jauh, kemarin. Belajar menahan ego yang sangat tinggi dan membenahi diri. Meski prosesnya tetap berjalan sampai saat ini.

Semoga selalu ada hal baik dan tetap saling menguatkan.

Friday, August 19, 2016

Segala Ini-Itu di DuaLima

Dua puluh lima. Angka itu identik dengan beberapa hal. Kedewasaan diri, kematangan, mandiri, dan gajian.

Jelas saya tidak akan membahas tentang poin terakhir. Hehehe.

Seperti perempuan pada umumnya, memasuki usia 25 tahun pasti ada perasaan aneh. Aneh kenapa kok udah dualima lagi. Rasanya baru duapuluh kemarin.

Juga ada perasaan banyaknya tuntutan. Tuntutan karir, sikap, cara berpikir yang harusnya bla bla bla, sampai yang paling nyaring terdengar adalah tentang berkembang biak. Eh, berkeluarga. Mungkin ini yang namanya Quarter Life Crisis kayak orang-orang bilang.

"Sebelum dua lima kamu bakal ngerasa deg-degan dan segalanya tampak banyak tuntutan, apalagi soal menikah. Entar kalau udah masuk dua lima, malah kamu bakal santai dan enggak ngoyo, ca" kata seorang teman yang usianya cukup jauh dengan saya.

Hhmmm.. Mungkin iya sih. Pelan-pelan saya mengalaminya dengan takaran yang naik turun. Sebelum memasuki dualima tiga hari lalu. Atau tepatnya, sebelum ada yang datang kembali setelah setahun berlalu.

Sesekali merasa santai se-santai-santainya pada apa yang saya jalani. Terkadang fokus pada cari-uang-banyak-yang-entah-nanti-buat-apa dengan tujuan yang masih ngawang-ngawang.

Dan (pada masa itu) sering kali merasa masa bodo dengan sesuatu yang berbau hubungan-serius-sampai-menikah-dan-berkeluarga. Masa bodo dengan tradisi menikah di anak pertama, perempuan, yang tidak boleh dilangkahi oleh adik-adiknya.

Meski takarannya naik turun, harus ada daftar life goals saat mencapai dualima. Hahahaha! Life goals. Hhhmmm..

Punya penghasilan sendiri (tapi sering mengeluh)

Menikmati hidup sendiri di perantauan (tapi sering mengeluh)

Membahagiaan orang terdekat (tapi sering merepotkan)

Tertawa sesukanya (tapi sering ditegur orang)

Dan berkembang biak. Eh, berkeluarga. (tapi.. eh tapi apa ya hahahaha!)

Sampai di perjalanan seperempat abad ini, perlahan saya memahami, semua orang punya life goals masing-masing. Tidak bisa disamakan, apalagi dibanding-bandingkan.

Sesederhana cara berpikir seseorang yang tidak bisa diukur dari usia. Juga 'kegilaan' sikap yang ada dalam diri.

Mari saling menghargai, tanpa menyamakan tujuan hidup masing-masing orang.

Selamat dualima! Mari Berbahagia!













Jakarta, 19 Agustus 2016
Ngantuk pengen tiduran di kosan aja.

Friday, July 29, 2016

Tentang Remaja Kekinian

Lagi sering memperhatikan apa yang ramai dibicarakan orang di internet. Satu topik bahasan ini kayaknya paling laris dari sekian pembahasan tentang tax amnesty atau reshuffle kabinet atau vonis hukuman mati (iya tau itu beda konteks hehehe)

Anyway, kali ini tulisan bakal ngebahas tentang remaja yang lagi laris manis di sosial media. Iya, dia Karin Novilda.

Biar enggak melulu bahas soal hati. Eh, si Karin ini juga soal hati sih, ya enggak apa-apa ya.

***

Beberapa minggu terakhir, remaja ini lagi jadi sorotan di sosial media. Terutama di kalangan remaja tanggung dan orang (mungkin) dewasa yang penasaran sama "Apa sih yang dilakukan dia sampai bisa jadi bahan bicara orang-orang" dan saya salah satunya. Muehehehe.

Rasa penasaran di awali dari buka Vlog dia di Youtube. Menyimak aktivitas dia bersama teman-teman, terutama kekasihnya (yang sekarang mantan). Hmmm.. 10 menit pertama, saya merasa seperti membuang waktu dan kuota dengan percuma.

Kenapa musti sebegitunya ya?

Tapi setelah dipikir-pikir, dilihat lebih dekat dan bijak lagi (sok banget sih ini) ada kesalahan juga yang dilakukan publik pada anak ini.

Terlalu sibuk membandingkan kondisi dulu dan sekarang.

"Gila ya anak jaman sekarang gayanya selangit"

"Pacaran gitu banget sih, ngapain coba ntar juga dia menyesal kalo udah sadar"

"Ih kayaknya dulu di jaman kita gak gitu yaaa"

Dan kalimat sindiran lainnya...

Kalau dilihat dari sisi pergaulan, sebenarnya apa yang dilakukan Karin itu ada di jaman saya (10 taun lalu lah kira-kira. Iya udah tua ya iya). Mungkin juga di jaman sebelum saya.

Pasti banyak anak yang badung, sok gaul, sok ngerasa 'paling' di sekolah atau di lingkungan pertemanannya. Tapi yang tau ya sekitarnya saja.

Kalau dilihat dari sisi kisah cinta dia yang (seperti) begitu sayangnya, memberikan seluruhnya, patah hatinya diputusin pacar, ya pasti ada (walau saya baru pacaran semasa kuliah. Iya enggak laku). Tapi pasti ada.

Gaya pacaran yang pangku-pangkuan di kelas lah, sibuk di kamar mandi lah, atau di mobil apa lah apa lah itu.

Tapi ada satu hal yang luput dan lupa, kecanggihan teknologi.

Perbedaannya jelas, belum ada teknologi dan sosial media yang menyebarkan itu semua. Sebenarnya, kenakalan remaja udah adaaaa dari jaman dulu.

Punya rasa sakit hati yang mendalam, seperti yang dirasakan Karin, paling dulu larinya kemana sih? Curhat ke teman, nulis buku harian, atau mentok-mentok kirim salam di radio.

Masanya beda. Jangan disama-samain.

Bukan, bukan membela si aw aw ini. Cuman ada baiknya berpikir lebih luas lagi dan menyikapinya enggak cuma nyindir. Menyadari kalau ada perbedaan yang sangat berpengaruh dalam menyikapi permasalahan.

Tetap ada kesalahan yang besar dilakukan karin. Patah hati - jatuh cinta rasanya emang bikin hilang arah, apalagi kalau dirasakan remaja unyu-unyu seperti dia. Kesalahannya terletak pada salurannya yang bikin orang penasaran.

Nanti bakal ada saatnya dia malu sama unggahan dia di sosial media.

Sama seperti saya menemukan foto di facebook dan cuitan di twitter sekian tahun lalu. Kalau friendster atau multiply masih ada pasti lebih malu lagi. Hahahaha!

Ya, akhir kata, semua generasi punya masanya sendiri. Enggak bisa disamakan. Lebih baik cari cara bagaimana menghindari orang terdekat, seperti adik, agar enggak melakukan hal berlebihan seperti Karin.





Kantor, 29 Juli 2016
Efek pengen pulang ke Bandung.

Monday, July 25, 2016

18:34 PM

Ada kalanya kamu hanya ingin menyimpan cerita rapat-rapat. Tidak mengumbar pada banyak orang, bahkan teman dekat. Cukup kamu sendiri dan orang yang bersangkutan yang memahaminya. Kalaupun bercerita pada orang lain, kamu akan memilih dengan sangat hati-hati.

Bukan berarti pelit, atau sombong, atau tidak percaya, atau apalah itu sebutan yang bernada sindirian lainnya.

Terkadang kamu akan ada pada satu titik, lelah bercerita pada banyak orang. Membagikan segala unggahan foto atau cuitan bernada patah hati-jatuh cinta-keluh kesah.

Karena pada akhirnya, yang akan kamu dengarkan adalah diri kamu sendiri, karena hal itu menjadi sesuatu yang mahal. Terlalu mahal. Sangat.




Kantor, 25 Juli 2016
selesai buang air.

Friday, June 3, 2016

Pencapaian

Sore itu, saya duduk di stasiun. Tanpa tujuan. Mengamati orang lalu-lalang, sambil menyumbat telinga dengan lagu lewat earphone kumal kesayangan.

Ah, Jakarta...

Sering kali saya menganalogikan Jakarta seperti perempuan cantik yang diperkosa. Keindahan dan kecantikannya bisa dinikmati oleh semua orang. Dia segala punya, segala bisa, segala ada.

Tapi kadang dianalogikan seperti satu loyang kue blackforest. Terlalu manis, cenderung enek. Hanya bisa dinikmati sepotong, tidak bisa penuh.

Lalu memori saya kembali pada masa pertama datang ke Hutan Beton ini.

Tepatnya 2 tahun 6 bulan yang lalu.

Seperti pendatang pada umumnya, saya datang ke sini bermodalkan panggilan kerja. Membawa satu map berisi ijazah, transkrip nilai dan tetek bengeknya.

Asing dan bising. Kesan pertama saya pada salah satu kota terpadat di dunia ini.

Tidak lama kemudian, saya resmi menjadi pekerja pendatang baru di Jakarta.

Jenis pekerjaannya? Bukan yang saya impikan. Menuntut mobilitas tinggi, mengejar orang yang harus ditanya, setiap hari, berbeda-beda, lalu dituangkan dalam tulisan.

Sendirian. Kemana pun. Lelah? Jangan ditanya.

Setiap hari tidak terhitung keluhan yang keluar dari mulut saya. Tidak tahu rute jalan menjadi kendala terbesar. Jakarta yang sebesar ini, harus saya telusuri, saya cari di internet, dengan kendaraan umum.

Dia hanya bisa mendengarkan ocehan saya lewat telepon di ujung sana. Kami berada di kota yang sama, tapi pekerjaan menuntut pertemuan yang tidak bisa segera.

Meluangkan waktu satu jam untuk makan malam bersama menjadi momen paling mahal. Padahal, hanya beli roti bakar atau nasi goreng pinggir jalan.

Bukan tanpa alasan, ini karena bertukar cerita adalah kebutuhan bagi kami.

Lalu agar selalu bersemangat, kami buat kesepakatan harus makan enak tiap bulan. Dipilihlah sebuah warung seafood pinggir jalan di Selatan Jakarta.

Dasarnya tukang makan, sekalinya ada waktu luang kami memilih untuk mencari tempat makan di Jakarta. Utara ke Selatan, Barat ke Timur ditempuh. Banyak tempat yang kami datangi, banyak jalan juga yang membuat kami tersesat. Menyenangkan.

Satu tahun menjalani hidup di Jakarta rasanya sangat berat, tapi dia selalu menguatkan. Lewat tawa yang menyebalkan dan obrolan khas yang hanya kami mengerti.

Sampai pada akhirnya kami harus berjalan masing-masing, tanpa mendampingi satu sama lain.

Bukan berat lagi. Ini sangat berat. Sungguh.

Saya mengawali hidup di sini bersama dia. Lalu sekarang saya harus tanpa dia?

Tiga bulan pertama rasa muak dan kesal mendominasi. Kembali ke Bandung adalah keinginan terbesar saya waktu itu.

Kemudian pada satu titik, saya mulai mencari potongan manis dari kue yang enek ini. Apa yang saya dapat dan apa yang saya cita-citakan.

Menikmati Jakarta lewat duduk di halte bis, stasiun kereta, moda transportasi yang menyenangkan, bertemu teman baru, tertawa bersama dan berlibur.

Melakukan apapun yang saya suka. Yang saya mau.

Sampailah saya di hari ini.

Tepat setahun saya bisa bertahan dan berjuang di kota yang penuh sesak. Seorang diri. Tanpa dia yang menemani di awal.

Mungkin terkesan berlebihan, tapi buat saya, ini adalah pencapaian. Ternyata saya bisa. Saya mampu. Saya berani.

Sering membenci Jakarta tapi tidak lupa bersyukur sudah ditempa dan diberi kekuatan sampai sejauh ini.

Sampai kapan bertahan dan berjuang di sini?

Entahlah, saya hanya bisa berusaha sampai batas kemampuan. Push to the limit.

Dan untuk ke sekian kalinya, saya bilang ini.

Jakarta, terima kasih. Saya tahu kamu baik :)



\  



Jakarta, 2 Juni 2016


Hasil percakapan dengan diri sendiri sebelum tidur

Tuesday, May 17, 2016

Tentang Kaktus

"Aku tau kau tidak bisa merawat bunga, makanya aku beri kau kaktus," sebuah percakapan pada satu drama korea yang masih jadi misteri.

Sebelum ada drama (yang entah judulnya apa) di tahun 2005, saya sudah menaruh hati pada tumbuhan berduri ini. Tapi belum besar, belum jatuh, sejatuh sekarang.

Dialog itu menguatkan jatuh-jatuh saya pada kaktus. Menggelitik dan memberi senyum simpul di bibir.

Kemudian sampai sekarang, kalimat itu seperti mantra, selalu melekat di memori saya yang minim.

Seringkali orang heran, kenapa harus kaktus? Dari segi bentuk, dia tidak genic, berduri, terkesan galak dan tidak ramah pada manusia.

Alasan sederhana yang paling bisa diterima adalah, perawatannya yang mudah.
Tinggal disiram dua minggu sekali lalu taruh di tempat panas. selesai.

"Pantes suka kaktus, cocok buat kamu yang pemalas" kata salah satu teman lama.

Kalau mengacu pada kebiasaan saya, itu sangat benar. Kaktus cocok untuk siapapun yang kurang bisa merawat tanaman. 



Tapi di balik itu semua, kaktus punya makna tersendiri. Kedudukannya setara dengan kereta dan seafood. Semacam mood booster di kala penat. 

Ada rasa bahagia kalau melihat dia di sebuah taman, di pinggir jalan, atau bahkan di pekarangan rumah orang.

Hijau, berdiri, tinggi menjulang, dengan duri yang mengelilingi tubuhnya. Seakan minta didatangi, dikunjungi, mengajak bicara, memberi ruang untuk saya bercerita. Selonjoran di tanah, sambil sesekali menatapnya, bersandar. Walau berduri.

Dan sekarang, saya sedang rindu. Bukan sekedar bertemu dia di jalan, tapi benar-benar mengunjungi, bercakap-cakap dalam diam dengannya. 

Semoga selalu ada waktu untuk mengunjungimu, ya! Sampai ketemu! 


Thursday, May 5, 2016

Sesederhana Baso Sehat

Perempuan memang aneh. Satu fase dalam satu bulan, dia bisa keluar dari kebiasaan. Tiba-tiba menyebalkan, kekesalan meluap-luap, malas melakukan apapun, sampai menangis.

Alasannya? Saya yakin alasan itu tidak bisa diterima pakai logika.

Hanya karena charger ponsel tertinggal di kantor, kesalnya seperti kehilangan ponsel.

Atau juga karena makanan terlalu panas, jadi kami -kaum moody- menyalahkan siapapun yang ada di depan. Kalau ada tukang dagangnya, disemprot lah dia. Kalau sendirian di kamar? Ngedumel, menggerutu, marah-marah seakan ada kesalahan fatal.

Luapan emosi seperti itu pasti sering kamu alami, juga saya. Tapi buat saya, lebih sering adem ayem tanpa drama, daripada meledak-ledak.

Tapi (lagi) dua bulan terakhir seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam diri. Dramanya melebihi sinetron murahan yang ada di TV.

Maret lalu, amarah mendominasi. Antagonis. Bawaannya ingin galakin orang tanpa sebab. Mencari-cari alasan paling masuk akal yang bikin dia merasa salah. Keluarlah kalimat-kalimat yang tidak seharusnya.

Setelah itu? Saya minta maaf dan merasa bodoh sekali.

"Ngapain amat marahin orang itu ya" gumam saya.

Berbeda dengan bulan ini. Melankolis cenderung memalukan. Sangat.

Di Sabtu sore setelah bekerja, saya pergi bersama teman. Mungkin hari itu memang menyebalkan. Hujan deras, memesan ojek online tapi tanpa respon. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang naik bus transjakarta andalan. Menuju halte, kehujanan, kepala pusing, kuota modem wifi habis, salah tanggal beli pulsa. Semua kekesalan numpuk jadi satu.

Sesampainya di halte dekat kost, saya berjalan cepat, kepala sedikit menunduk karena hujan rintik-rintik. Masuk gang, gerobak bakso langganan baru bersandar, dan saya memutuskan beli seporsi bakso yang harganya hanya 8 ribu.

Pintu gerbang di buka, menaiki anak tangga dan tidak ada semangat sama sekali. Lelahnya membuat saya ingin berteriak.

Teriakan saya pun hampir meledak, tapi malah berubah jadi tangis, ketika membuka tas.

Ternyata saya sudah punya satu porsi KFC dan spontan mengumpat

"Buat apa lo beli baso sehat caaaaaa, kan udah punya kfc" lalu menangis penuh kekesalan.

Seperti orang yang baru patah hati, saya memutuskan mandi -karena memang pusing juga efek hujan- Dan masih menangis.

Kekesalan belum terpuaskan. Lalu saya bercerita panjang lebar sambil sesengukan lewat telepon, pada seseorang di Timur Jakarta. Responnya? Tertawa puas.

"Hahahahahahahaha makin aneh aja. Nangis gara-gara beli baso. Yaudah nanti buku pengaturan keuangan aku balikin ke kamu ya. Biar bisa enggak beli baso pas udah punya ayam," katanya dengan tawa yang khas.

Aku hanya menggerutu sambil diselip tawa malu. 

Perempuan memang sulit dimengerti. Padahal dia sudah paham kalau itu memalukan, tapi masih dilakukan. Seperti kena hipnotis. 

Heran.



Bandung, 4 Mei 2016


Sambil mengingat kejadian memalukan itu

Wednesday, April 27, 2016

Tentang Ingat

Memori/me·mo·ri/ /mémori/ n 1 kesadaran akan pengalaman masa lampau yg hidup kembali; ingatan; 2 catatan yg berisi penjelasan; 3 peringatan; keterangan

Menyenangkan, satu kata yang saya gambarkan sebagai pecinta memori, walau selalu diikuti dengan sesak. Tapi selalu menjadi candu bagi saya. Terus digali, mengulang peristiwa yang sudah lewat. Hari ini, kemarin, minggu lalu, sebulan ke belakang bahkan sampai hitungan tahun.

Semua peristiwa itu terekam di dalam otak saya, ingatan saya. Walaupun memang, saya tipikal 'ingatan ikan'. Istilahnya, sekian detik kemudian lupa. Tapi ada, bahkan banyak hal yang berkesan dan tidak dan itu semua menguasai kepala.

Bukan berarti semua hal yang saya dengar, kejadian yang saya lihat dan alami, menyenangkan dan baik-baik. Seperti saya ingat bagaimana rasanya jatuh dari sepeda waktu kelas 4 SD, berangkat sekolah naik ojek dan mencium tangan bapak ojek-nya, atau saat saya pertama kali sadar kalau alergi buah rambutan.

Secara ilmiah, memori dibagi menjadi dua bagian, jangka panjang dan pendek. Sebelum informasi masuk ke dalam ingatan panjang, terlebih dahulu melalui tahap memori sensoris. Tugasnya, memilih informasi sesuai dengan fungsi masing-masing panca indera. Kemudian diteruskan ke ingatan jangka pendek.

Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, mereka diseleksi mana yang dianggap penting dan tidak. Lalu diteruskan ke ingatan jangka panjang.

Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah agar saya, kamu, kita ingat selamanya. Hebatnya, ingatan yang telah tersimpan dalam ingatan jangka panjang bisa munculkan kembali saat menginginkannya.

Iya, ingatan jangka panjang muncul kembali ketika saya, kamu, kita, menginginkannya.

Misal, saya alergi rambutan, sebelum saya mengingat itu, terlebih dahulu informasi diolah di sensoris, bahwa indera pengecapan dan perasa saya tidak bisa menerima buah yang masih 'bersaudara' dengan leci ini. Setelah itu tersimpan di dalam memori jangka panjang.

Ingatan tentang alergi itu akan kembali, kalau saya menginginkannya untuk 'keluar', ketika mendapat pertanyaan "Apakah Anda memiliki alergi?" saat bertemu dokter. Atau, ketika buah itu sedang berada di musimnya pada bulan Desember - Januari.

Tapi tidak selalu memori keluar karena momentum. Dia bisa mengetuk jendela lewat lamunan saat buang air, menyikat gigi, perjalanan pulang, bangun tidur, atau malam sebelumnya. Tentu itu semua terjadi ketika saya, kamu, kita, menginginkannya.

Seperti tadi malam, saya tertiba teringat satu hal yang membuat otak saya didominasi kata 'kalau'. Terus dicolek, digali, semakin dalam. Rasa rindu langsung menelisik, menguasai seakan tidak memberi ruang untuk menarik nafas.

Tatapan penuh heran ketika saya memeluk kaktus. Air wajah canggung, saat saya memujinya yang memakai polo shirt hitam. Dengkur yang terdengar di ujung telepon, padahal baru sekian menit bertukar cerita.

Suara menyebalkan saat mengucapkan kalimat-kalimat kaku yang hanya saya dan dia mengerti. Rayuan-rayuan ketika dia ingin belanja. Permainan logika yang selalu membuat saya terlihat bodoh.

Kemudian saya menyadari satu hal, bahwa rindu tidak melulu soal kembali.

Terkadang menyenangkan, menjadi pribadi yang tidak ada rasa harap berlebih. Saya hanya bersiap dengan pribadi yang seperti ini, menanti siapa yang datang.


"Jangan menutup banyak kemungkinan untuk satu kemungkinan," Dody Wiraseto, 31 Tahun, Teman Perjalanan.







Jakarta, 27 April 2016


Ketika kantuk menyerang di kantor

Monday, March 28, 2016

Sifat Karaoke: Personal

Selain makan dan tidur, karaoke adalah cara paling ampuh melepas penat dalam waktu singkat. Setidaknya itu dirasakan perempuan macam saya, yang suka menyumbangkan lagu.

Bukan, bukan menyumbangkan lagu senang menyanyi dengan suara merdu. Tapi lebih tepatnya membuat lagu menjadi sumbang.

Iya, menyumbangkan lagu dalam arti sebenarnya. Kata sifat bukan kata kerja. Sebutan halus dari kata perusak lagu.Hehehe.

Kembali ke pembahasan karaoke. Di kala pekerjaan yang bikin pengen muntah, orang-orang yang punya banyak topeng, dan masalah hati, saya lebih memilih mengajak teman dekat untuk menyumbangkan lagu di bilik itu.

Kenapa teman dekat?

Begini, menurut saya, memilih teman karaoke itu enggak bisa sembarangan (ini bukan mengarah ke karaoke aneh-aneh ya). Ketika seseorang (saya) karaoke, mau tidak mau, sifat aslinya akan terlihat. Jelas. Cenderung lebih liar dari biasa.

Playlist lagu yang dipilih pun bisa menggambarkan suasana hati yang nyanyi. Misal, lagi galau sengsara gundah gulana, lagu enggak jauh dari Tulus, Kahitna, Adele atau siapa lagi lah itu.

Ada juga yang ingin teriak-teriak, seru-seruan, melepas penat, dan kekesalan pada seseorang atau banyak. Biasanya lebih memilih yang bikin joged-joged dan teriak. Macam lagu dangdut, rock, atau apalah kesukaan mereka.

Tapi ada juga sih yang nyanyi lagu pelan, nadanya teriak-teriak.

Nah, gimana kalau 'salah' milih partner atau terjebak di orang enggak (terlalu) dikenal saat berkaraoke?

Suasana ruangan pasti bakal hening-hening bingung. Berusaha 'liar' tapi ternyata kurang didukung dengan teman-teman yang lain.

Ataaaau, gatel banget ingin nyanyi tapi gengsi? Gara-gara orang di sekitar enggak terlalu akrab, canggung dan malu?

Saya pernah ada di posisi itu.

Situasinya selesai liputan, diajak karaoke dengan ruangan super besar, bareng rekan kerja plus klien. Yaa mungkin buat sebagian orang biasa kali ya. Tapi buat saya itu aneh banget.

Ternyata memilih teman berkaraoke enggak bisa sembarangan dan sifatnya agak personal.

Malu juga ketauan liarnya sama orang yang baru kenal. Apalagi gebetan.

Tuesday, March 22, 2016

Maaf yang Tidak Terbatas

Menginjak usia dua-puluhan, hal yang paling sering wara-wiri di sosial media adalah seputar pernikahan. Mulai dari foto lamaran dengan cincin yang tersemat di jari manis, membagikan seragam ke teman terdekat, bridal shower --yang ini memang lagi happening--, akad nikah, resepsi, hanimun, foto testpack, sekian bulan kemudian hasil USG, lalu melahirkan, dan seterusnya.

Bukan, saya bukan iri atau semacamnya. Hanya mengamati apa yang membanjiri timeline di sosial media saya pribadi.

Kemudian saya menggumam, "oh ternyata ini memang fase-nya ya?"

Mungkin beberapa tahun lagi, fasenya bergeser. Mengantar anak sekolah - hamil anak kedua - aktivitas arisan - pekerjaan - dan seterusnya. 

Sebenarnya itu semua tidak bisa dihindari. Di usia segitu memang lagi 'musim-musimnya'. Bisa juga dikatakan waktu yang paling ideal.

Semakin sering menerima undangan, saya semakin sering bertanya pada teman yang akan menikah itu.

"Kok lo bisa yakin nikah sama dia?"

Terdengar kurang ajar, mungkin. Apalagi kalau ditanyakan pada teman yang kurang begitu dekat. Tapi sebenarnya itu hal sangat mendasar.

Sayang atau cinta saja tidak akan pernah cukup, kan?

Jawabannya juga beda-beda.

"Ya, gimana ya. Gue yakin aja gitu bisa bahagia sama dia"

"Dia bisa nerima aku yang kayak gini"

"Apaan sih ca? hahaha. Degdegan gue ditanya gitu"

"Karena, ibadah. Insha Allah, ca"


Sampai pada akhirnya saya menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya.

"Karena aku punya maaf yang enggak terbatas buat dia"


Mendengar jawaban itu, saya terhenyak. Maaf-yang-tidak-terbatas.

Iya, sebuah hubungan yang diikat dalam satu payung pernikahan, masing-masing dari mereka harus punya maaf yang tidak terbatas. Tidak hanya sekedar memaafkan kesalahan, tetapi juga rasa maklum karena kedua pasangan masih sama-sama belajar. Proses belajar pun akan berlangsung sampai nanti, seumur hidup.

Jawaban teman saya pun menjadi pertanyaan untuk saya sendiri

Sudahkah saya dan kamu punya maaf yang tidak terbatas pada seseorang?

Friday, January 8, 2016

Mengenal Cerita Si Pitung dari 3 Versi

Siapa tidak kenal tokoh Si Pitung? Ia adalah orang betawi asli yang pintar mengaji dan bela diri. Menurut sejarah, tokoh yang bernama asli Solihun ini berasal dari Rawa Belong dan jago silat cingkrik.

Pada jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1890, Pitung ramai dibicarakan karena sering menjarah harta orang kaya dan membagikannya pada fakir miskin. Namun versi orang pribumi, Pitung adalah pahlawan. Mana yang benar?

Menurut Moch. Ridwan warga asli Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, ada 3 versi cerita tentang Si Pitung yang beredar di masyarakat sekitar. Yakni versi orang Belanda, Cina dan Indonesia.
Rumah panggung di Marunda, Jakarta Utara, yang menjadi perlambang tempat tinggal Si Pitung

"Kalau versi kita orang pribumi, Si Pitung ini Robin Hood-nya Indonesia. ngerampok tuan tanah dan orang kaya, lalu dibagikan ke fakir miskin," cerita Ridwan

Menurut orang Cina, lanjut Ridwan, Pitung adalah pahlawan orang Cina karena dulu terjadi pemberontakan etnis tionghoa di kali yang sekarang menjadi kawasan Angke.

"Sebagian masyarakat Cina itu diselamatkan sama Pitung. ada yang dibawa ke depok, kota dan bekasi. karena pitung wilayahnya luas," tambah Ridwan.

Lain lagi dengan versi Belanda. Mereka menganggap sudah jelas kalau Pitung adalah orang jahat yang harus ditangkap dan dihukum mati, karena mengganggu stabilitas keamanan. Konon, ada bukti yang mengatakan muncul surat kabar Hindia Belanda, Pitung ditembak mati oleh Snoop Heiner, itu benar adanya.

"Dia polisi yang fokus ke kejadian pitung pada saat itu. sampai ditembak mati dan jenazahnya dibawa ke penjaringan, dikubur tanpa nisan supaya gak banyak yang tau karena penjahat besar," jelas Ridwan.

Wisata 'Kekinian' Di Farm House Lembang

Pernah mendengar serial film The Lord of The Rings (LOTR)? Film Hollywood yang diadaptasi dari novel ini sangat populer di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Lokasi syutingnya yang berada di Auckland, Selandia Baru pun menjadi destinasi wisata bagi para penggemar Frodo dan kawan-kawan.

Salah satu yang menjadi ikon adalah perkampungan para kaum Hobbit. Nah, bagi Anda yang ingin 'bertamu', tidak perlu jauh-jauh ke Selandia Baru. Cukup datang ke kota kembang, Bandung.

Para kaum Hobbit seakan 'pindah' ke Lembang, tepatnya di Farm House. Banyak orang yang datang untuk berfoto di teras rumah teman dari Frodo ini. 

Farm House kini menjadi objek wisata baru bagi warga Bandung dan sekitarnya. Salah satu yang menjadi pusat perhatian dan populer di sosial media adalah rumah Hobbit ini.

Pertama masuk ke area ini, Anda bisa langsung membeli tiket masuk seharga Rp20 ribu. Tikert tersebut dapat ditukar dengan satu gelas susu murni atau sosis bakar. Ditambah Rp5 ribu untuk biaya parkir motor dan Rp10 ribu untuk roda empat.



Begitu memasuki bagian dalam, rumah Hobbit yang terletak di aera Petting Zoo langsung terlihat. Apalagi saat musim liburan, berbondong-bondong orang mengantri untuk berfoto di teras depan. Warnanya oranye dengan pintu bulat hijau, ukuran yang kecil dan atap yang hampir setinggi orang dewasa pasti sangat instagramable

.

Di sisi lain, Anda bisa menemukan banyak titik dengan arsitektur bergaya Eropa nan cantik. Seperti air terjun buatan, pedestrian yang asri dengan kiri-kanannya dibatasi dinding terbuat dari bagian akar pepohonan, dilengkapi beberapa tempat duduk dari kayu berpelitur yang nyaman. Ada pula rumah tradisional bergaya Eropa, sangat cocok dengan udara Lembang yang sejuk. Tempat-tempat ini menjadi sudut yang sangat genic untuk difoto dan tidak lupa, selfie!



Sesuai dengan namanya, tempat wisata yang ini mengajak Anda untuk bertani dengan tata pedesaan ala Eropa. Anda juga bisa menyewa kostum tani khas Eropa klasik lengkap dengan topi dan payungnya. Kostum ini disewa dengan harga Rp75 ribu per 2 jam, Anda bisa berkeliling mencari titik foto yang paling bagus dan sesuai dengan kostumnya.

Anda juga bisa berfoto dengan hewan kecil yang dapat dipegang seperti iguana, anak landak, dan sugar glyder. 

Bagaimana? Ingin tampil eksis? Yuk kunjungi Farm House di Jl. Raya Lembang No. 108, Cihideung, Lembang, Kabupaten Bandung.

Murah Meriah Jakarta - Bandung Cuma Rp12 ribu!

Moda transportasi kereta api menjadi pilihan bagi Anda yang ingin bebas macet saat berpergian. Apalagi di musim liburan seperti sekarang. Bahkan, kemacetan hebat terjadi di ruas tol dalam kota sampai Cikampek beberapa hari lalu. Jakarta - Bandung yang biasa ditempuh hanya 2-3 jam, saat libur Natal dan Tahun Baru kemarin bisa mencapai 12 jam.

Nah, bagi Anda yang sudah merencanakan liburan ke Bandung, tentu ingin bebas macet dan kantong tidak jebol. Sudah pernah mencoba cara murah meriah dengan mengeluarkan ongkos Rp12 ribu?

Caranya dengan melakukan dua kali perjalanan menaiki kereta lokal rute Jakarta Kota - Purwakarta, lalu dilanjut Purwakarta - Bandung. Saya mencoba cara unik ini pada Jumat, 25 Desember 2015 lalu.

Dari Stasiun Jakarta Kota menuju Purwakarta, ada dua kali perjalanan. pertama jam 10.15 kedua 12.45. Untuk dilanjutkan ke Bandung, diharuskan memilih jam pertama karena kereta dari Purwakarta menuju Bandung berangkat pukul 13.40.

Tiket bisa langsung dibeli pada loket Stasiun Jakarta Kota dekat pintu utama. Loket baru dibuka 1 jam sebelum keberangkatan. Ongkosnya, cukup Rp6 ribu.

Sambil menunggu kereta datang, Anda bisa melihat arsitektur stasiun Beos, nama lain Kota, yang bergaya Eropa. Suasana stasiun saat itu cukup ramai, didominasi oleh orang-orang yang ingin berlibur bersama keluarga dan orang terdekat.


Setelah kereta datang, penumpang yang sudah menunggu dipersilahkan untuk memasuki gerbong. Meski pada tiket tertulis nomor kursi, tetapi sebenarnya penumpang bebas duduk dimana pun, tidak harus sesuai nomor kursi.

Suasana kereta saat itu cukup penuh, ini karena bertepatan dengan hari libur nasional. Jangan khawatir soal udara, setiap gerbong sudah dilengkapi dengan pendingin udara.

Perjalanan dari Kota menuju Purwakarta ditempuh sekitar 2 jam 30 menit. Setelah sampai di Purwakarta, segera membeli tiket lanjutan menuju Bandung dengan relasi kereta Purwakarta - Cibatu yang berangkat pukul 13.40. Harganya masih sama, hanya Rp6 ribu,

Untuk sampai di Bandung, Anda bisa turun di antara dua stasiun, Kiaracondong pada pukul 17,12 atau Bandung pukul 16.30. Jadi, waktu tempuh perjalanan Anda dari Jakarta menuju Bandung sekitar 7 jam. Meski lama, namun cara ini cocok untuk Anda yang senang berpetualang.

Cara yang sama juga bisa digunakan bila dari Bandung menuju Jakarta. Anda bisa berangkat dengan kereta relasi Cibatu - Purwakarta dari stasiun Bandung pukul 08.25 atau Kiaracondong pukul 07.40. 

Diperkirakan sampai di purwakarta pukul 12.06. Setelah itu Anda bisa langsung beli tiket menuju Jakarta yang dijadwalkan berangkat dari purwakarta - jakarta 14.00. Anda bisa turun di stasiun Pasar Senen atau Kota.

Hal yang harus diperhatikan adalah perjalanan ini bisa berlangsung bila kereta tidak mengalami keterlambatan.

Bagaimana? Masih ada cara murah meriah untuk pergi ke Bandung, kan?