Thursday, September 10, 2015

Selamat malam, Jakarta.

Jakarta, 10 September 2015

Sore tadi jam 6, saya baru selesai bertemu salah satu narasumber di salah satu mall di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat untuk artikel mingguan edisi minggu depan. Menuju pintu keluar, langkah kaki saya terasa lebih berat. Rasanya lelah, bosan, capek, pusing, dan semua kalimat negatif berputar di otak.

Biasanya, saya paling malas pulang di jam-jam sibuk, memilih datang ke restoran cepat saji, duduk, ngetik, atau killing time sampai masuk jam 9 ke atas. Ketika lalu lintas enggak ruwet, bus trans jakarta enggak penuh sesak dan bisa dapat tempat duduk tentunya.

Tapi kondisi sore lain dari biasanya. Badan dan otak rasanya super capek, ditambah ada deadline yang menghantui. Akhirnya saya memutuskan pulang naik ojek online yang sekarang lagi populer.

Setelah memesan, saya menunggu di tangga dekat lobby barat mall. Tidak butuh waktu lama sampai pengendara datang, mungkin tidak kurang dari 5 menit. Saat sampai, dia menyapa dengan ramah lalu memberikan helm.

Saya termasuk langganan aplikasi ojek online ini. Enggak bisa dipungkiri, manfaatnya sangat baik untuk lalu lintas Jakarta yang super padat. Apalagi pekerjaan saya yang menuntut agar bisa 'belah diri'.

Setiap naik ojek, dalam perjalanan saya kebiasaan mengajak ngobrol pengendaranya. Kecuali kalau sudah benar-benar capek, males ngomong, atau pengendaranya kurang vokal, saya lebih banyak diam memperhatikan kelap-kelip lampu kendaraan

Sore tadi, saya melakukan kebiasaan saya itu. Pak Endin, pengendara ojek, orangnya ramah, menyambut saya dengan senyum. Dengan aksen sunda yang kental, saya dan dia pun ngobrol cukup aktif.

Pak Endin bercerita, ia tinggal di Jakarta sejak 1973 di perkampungan belakang gedung Polda, Senayan. Sekarang berubah jadi kawasan bisnis SCBD sejak penggusuran di tahun 1988. Dengan bersemangat, pak Endin cerita, wajah Ibukota dalam sudut pandangnya dari masa ke masa.

"Neng dulu mah boro-boro macet. Bisa dipakai trek-trek-an malah," ceritanya sambil tertawa, saya pun menimpali.

Di tengah kemacetan di depan Sudirman Citywalk, saya bertanya dalam hati, 'orang Jakarta itu sabar-sabar ya. Macet gini masih aja mau tinggal di sini' pertanyaan yang sering saya tanyakan berulang kali. Termasuk buat saya sendiri.

"Bapak pusing enggak sama macet jakarta?" tanyaku kemudian.

"ah neng, bapak mah santai aja. Enggak mau marah-marah, toh yang bikin macet kita juga. Kesel mah pasti neng, tapi dinikmati aja lah," jawabnya enteng.

Saya tersenyum. Memandang gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dari jembatan layang arah Kuningan. Memasuki jalan Dr. Satrio, lalu lintas lebih lancar. Saat itu saya menggumam, 'ternyata si ica udah setahun setengah berjuang di sini. Bisa juga ya?'

"Kalau neng udah berapa lama di Jakarta?" tanya pak Endin seakan tahu apa yang aku katakan.

"ah baru pak. Saya baru satu setengah tahun, dari awal 2014," jawab saya.

"waah baru atuh ya. Selamat datang di Jakarta, neng. Jakarta mah keras, neng-nya harus kuat. Jangan keasikan kerja terus lupa kesehatan, main, sama nyari pasangan. Palaur neng di kota orang gak ada yang jagain," kata pak Endin dengan lengkap.

Saat mendengarnya, saya tidak merasa ada nada sok tahu dari ucapannya, tidak ada nada menggurui. Yang ada adalah sebuah nasehat yang keluar dari bapak berusia 53 tahun dengan anak 6 dan cucu 5, yang khawatir terhadap kondisi perempuan yang bekerja di Ibukota.

"Neng kayaknya seumur anak saya, kelahiran berapa neng?" tanyanya kemudian.

"kelahiran 1991 pak hehehe. Harusnya sudah menikah ya?"

Pertanyaan itu sebenarnya jebakan. Jebakan untuk diri saya sendiri. Sengaja, karena orang tua biasanya khawatir melihat anak perempuan menginjak usia hampir 25 masih sendiri.

"Hehehe enggak harus sih neng. Yah mungkin sebaiknya. Biar neng ada yang jagain," katanya dengan nada seperti tidak enak.

Memasuki jalan Denpasar, di perempatan Mega Kuningan, saya menoleh ke kanan. memandang sebuah gedung yang sangat familiar buat saya.

"apa kabar ya dengan orang itu? Sepertinya dia sudah lebih baik sekarang," tanya saya dalam hati. Terselip sesak, tapi saya berusaha mengabaikannya.

Semenjak kejadian tiga bulan kemarin, saya terus mencari dan memilih 'potongan kue' Jakarta yang manis. Mengabaikan pahit, asam dan hambarnya.

Di awal kejadian itu, saya membenci Jakarta. Sangat. Amarah saya keluar lewat berbagai sumpah, akan pergi dari sini, keluar, dan tidak akan datang lagi.

Tapi setelah melalui berbagai perjalanan dan cerita, ternyata Jakarta bisa menyenangkan. Saya masih bisa bertemu teman baru, menikmati sore di atas jembatan penyebrangan, pergi ke toko buku, jalan kaki di trotoar, mengamati orang lalu lalang yang sibuk mengejar kereta dan bis, dan bisa bertemu orang baik yang masih langka di Jakarta, seperti Pak Endin.

Selamat malam, Jakarta. Saya tahu kamu baik :)



(Ditulis saat deadline cover yang menghantui. pppffffftttt)

No comments:

Post a Comment