Thursday, August 20, 2015

Jalan Anggrek

Bandung, 20 Agustus 2015

Tempat ini lebih ramai dari biasanya. Didominasi oleh anak berseragam putih biru yang baru pulang sekolah. Melihat mereka bersenda gurau sambil main ayunan di bawah pohon cukup besar, saya rasa mereka sangat bahagia. Tertawa bersama di temani sayup-sayup angin sore yang menenangkan. Karena biasanya, di usia segitu, mereka lebih senang menghabiskan waktu nongkrong di mall atau nonton bioskop.

Bisa juga mereka sebenarnya sering jalan ke mall, hanya saat ini sedang bosan dan mencari suasana baru di sini.

Tiga tahun lalu, saya dikenalkan tempat ini oleh dia. Mungkin tidak sengaja karena waktu itu, dia butuh tempat leluasa untuk ngobrol panjang. Dipilihlah taman ini yang tidak jauh dari tempat dia tinggal.

Tapi buat saya, taman ini punya cerita sendiri. Mungkin juga buat dia. Ah entahlah, saya sedang bercerita dari sisi saya.

Sebelum sebagus sekarang, taman yang berada di persimpangan jalan anggrek - kemuning ini terlihat tidak terawat. Tidak ada tempat duduk, ada pun ayunan tapi dudukannya hanya beralaskan lempengan ban dan kayu. Tidak ada tempat sampah dan kalau malam -katanya- kurang penerangan jadi sering dipakai tempat yang kurang baik.

Satu tahun belakangan, taman ini berubah cukup drastis. Banyak kursi, tempat sampah, ayunan terawat, arena bermain anak lebih banyak, penuh warna, bertema dan sering dijadikan tempat berkumpul komunitas fotografi. Ini karena program pemerintah kota Bandung yang ingin memperbanyak taman kota.

Tapi, ada hal yang tidak berubah, yakni banyaknya gerobak yang menjual aneka jajanan khas Bandung mangkal di sekeliling. Mulai dari cilok, baso bakar, batagor, cuanki, sampai minuman kesukaan saya, susu murni KPBS. Hehehe.

Akhir Maret lalu, saya dan dia datang ke sini. Duduk di salah satu sudut sambil tertawa mengingat apa yang terjadi tiga tahun ke belakang dan berkhayal bersama.

Meski banyak perubahan dari taman ini, dari sisi saya, justru tidak ada yang berubah. Padahal, cerita saya dan dia saat ini sudah sangat berbeda.

Bila dirunut ke belakang, ternyata Maret kemarin adalah momen terakhir saya dan dia mampir ke sini. Bersama. Naik motor. Duduk-duduk. Jajan susu murni atau cuanki yang rasanya kurang enak.

Tapi, tempat ini masih menjadi kesukaan. Masih menjadi tempat wajib yang saya datangi setiap pulang ke Bandung. Sekedar duduk santai, menikmati teduhnya langit dari celah ranting pohon sambil mengulang memori tiga tahun lalu, ketika saya pertama kali duduk di sini.

Ya, hal yang masih menjadi kesukaan adalah mengingat memori yang telah lewat. Meski selalu menyisakan sesak, namun rasanya, terlalu sayang bila harus dihilangkan begitu saja.

Pada akhirnya, saya tau, ada beberapa atau mungkin banyak cerita saya dan dia, yang sayang untuk dilupakan dan diabaikan.

Iya, saat ini saya diam di tempat. Hanya menjalani apa yang harusnya saya jalani. Bekerja - makan - tidur - sesekali bermain - tertawa. Seakan takut untuk melangkah. Terlalu riskan. Terlalu berbahaya. Entah sampai kapan.