Saturday, March 14, 2015

1:38 AM

Di sudut kamar itu, saya memandang dia yang tengah berbicara di hadapan cermin seperti ada teman bicara. Dia adalah gadis yang sejak lama memimpikan tinggal jauh dari rumah. Gadis berusia 20-an dengan tingkat keras kepala dan ego yang tinggi, gengsi, dan semaunya.

Rasa ingin tinggal sendiri sudah dirasakannya sejak lama. Memimpikan suasana kamar sendiri, tidak berbagi tempat tidur dengan kakaknya. Memimpikan tidak adanya jam malam. Bebas pulang sesuka hati tanpa ada yang bertanya, "pulang jam berapa?" atau "jangan pulang malem-malem" atau "ngapain aja sih?" dengan nada cukup naik.

Kini gadis itu --bisa jadi saya, kamu, atau kalian-- sedang menjalani apa yang sudah lama diinginkan. Jauh dari rumah, jauh dari segala aturan yang ada.

Sampai pada satu titik, ternyata terselip rindu dibalik semua hal --yang dianggapnya-- menyebalkan. Rindu omelan sang ayah ketika sepatu masih tergeletak di depan pintu, rindu teriakan dua adiknya, rindu kejahilan sang ibu yang sering memainkan rambut.

Dan pada akhirnya, mau tidak mau, sekarang dia -gadis keras kepala- itu harus menahan rindu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Dan pada akhirnya pula, gadis itu baru menyadari, betapa berharganya sebuah 'pulang' dan tidak ingin jauh.

Seperti tidak ada alasan lagi bagi dirinya untuk bertahan di sini. Di ibukota yang penuh sesak.

No comments:

Post a Comment