Sunday, December 20, 2015

1.02 AM

Jakarta, 19 Desember 2015

melupakan/me·lu·pa·kan/ v 1 lupa akan; tidak ingat akan: sekali-kali tidak boleh ~ nasihat orang tua; 2 menjadikan lupa; menghapus dari ingatan: 3 melalaikan; tidak mengindahkan

Seringkali orang menginginkan lupa untuk banyak atau sedikit hal. Seperti ketidaksukaan pada sayuran, buah, binatang melata, serangga, peristiwa, perasaan, juga manusia.

Biasanya, rasa lupa dibutuhkan karena sesuatu atau banyak hal itu memiliki kesan buruk di masa lalu. Membuat trauma, enggan untuk lebih dekat lagi. Seperti seorang teman yang ditakut-takuti mentimun sewaktu kecil, membuatnya ogah bahkan takut melihat sayuran hijau itu.

Juga saya yang tubuh ini menolak bercampur dengan satu kandungan di dalam rambutan. Bila buah yang masih bersaudara dengan leci itu menyatu bersama liur di dalam mulut, leher terasa gatal, menimbulkan bentol-bentol seperti terkena ulat bulu.

Saya --dan mungkin teman saya-- ingin lupa rasa takut dan penolakan terhadap hal itu. Terganggu? Jelas, wong dia tidak salah apa-apa kok dimusuhi?

Tapi urusan akan berbeda bila bersinggungan dengan hati.

Rasa lupa sering disangkutpautkan dengan sakit. Terluka begitu dalam, menyusup ke dalam anatomi tubuh paling sensitif bernama hati.

Sayangnya, kebutuhan banyak orang kepada si lupa ini sulit. Saya-kamu-kalian baru bisa lupa, tidak ingat pada beberapa hal itu bila mengalami satu insiden, yang merusak otak dan ingatan. 

Karena sebenarnya, yang dibutuhkan bukan lupa, melainkan sikap abai. Mengabaikan, tidak lagi peduli. Tidak lagi merasa hal itu penting.

Mengingat dia yang sudah membuat luka di sana -di ruang sensitif- adalah hal wajar. Menjadi tidak wajar ketika mengingat segala yang pernah dialami bersama, lalu dikenang, digali, terus menerus. Sehingga membongkar bahkan membobol benteng yang pada awalnya dibangun kokoh, tapi kembali lembek, seperti semen terlalu banyak air. 

Keinginan seseorang untuk melupakan hal buruk seringkali memaksa. Terus menerus tidak ingin ingat lagi. 
Menghindar bahkan sampai memusuhi. Padahal semakin berusaha melupakan, itu akan semakin ingat.

Mungkin ini bukan jurus terjitu. Tapi rasanya lebih manusiawi.

Mengabaikan, perlahan. Membuat itu terasa biasa saja, tidak penting, tidak berpengaruh apa-apa.

Seperti usaha saya mengabaikan semua sudut kota Jakarta yang seakan mengajak kembali. Deretan tempat makan, mulai kios kaki lima hingga cafe mahal.

Mengabaikan kebiasaan sekian tahun bercerita, panjang lebar, menjadikanmu tempat berbagi keluh kesah.

Mengabaikan suara dengkur yang selalu terdengar setiap selesai cerita.

Mengabaikan humor-humor khas yang orang lain tidak akan mengerti.

Mengabaikan alunan musik yang pernah didengar bersama.

Mengabaikan kebiasaan diskusi sederhana. Sesederhana belanja bulanan atau beli sepatu.

Mengabaikan rayuan-rayuan khas setiap ingin beli ini itu.

Mengabaikan keasingan seperti ini yang tidak pernah terjadi selama 5 tahun terakhir.

Mengabaikan, menganggap tidak lagi penting. Tidak lagi punya pengaruh. Perlahan. Meski sulit. Terlalu.

Dan, yap. Saya baru saja menjilat air liur sendiri

"Menjadi tidak wajar ketika mengingat segala yang pernah dialami bersama, lalu dikenang, digali, terus menerus,"

Bangsyat memang. NGOMONG DOANG BISANYA LU CA


----------------------------------------------------------------------------

Daaaan ini jadi kebiasaan banget. Harus pemanasan dulu di sini, sebelum nranskrip dan nulis liputan khusus yang deadline-nya hari selasa. HUWAAAAAAAAAAAAAAAAA

Sunday, September 20, 2015

Liburan Murah Saat Dolar 'Munggah'


Liburan! Siapa yang tidak senang dengan kalimat itu? Melakukan perjalanan, menemukan hal baru, memanjakan diri dan 'menghilang' sejenak dari aktivitas padat sehari-hari. Ya, saat ini traveling sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia.

Peningkatan kebutuhan seseorang untuk berpergian itu terlihat dari survei yang dilakukan Global Travel Intentions Study (GTIS) 2015 oleh VISA Worldwide Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan pada Januari - Februari 2015, dalam dua tahun, orang Indonesia pergi ke luar negeri rata-rata berniat mengambil 5 kali perjalanan, untuk dua tahun ke depan .

"5 kali perjalanan ini leisure, bisnis, other purpose. Di Indonesia  mereka lebih berniat mengambil perjalanan bisnis 2 kali," kata Harianto Gunawan, Direktur VISA Worldwide Indonesia saat ditemui VIVA.co.id beberapa hari lalu.

Meski begitu, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika kini sedang melemah. Pada 10 September 2015, kurs rupiah terhadap dolar Amerika mencapai Rp14.345.

Berpengaruhkah angka tersebut terhadap minat masyarakat Indonesia untuk berlibur ke luar negeri?

Marischka Prudence, Travel Blogger yang sudah menjelajahi banyak negara dan daerah Indonesia mengatakan bahwa berpengaruh itu pasti. Menurutnya, bagaimanapun budget untuk traveling ke luar negeri terutama yang mata uangnya dolar akan sangat terasa.

"Untuk destinasi negara yang tidak menggunakan dolar us juga akan tetap berpengaruh karena banyak hal yang berkaitan dengan travel industri perhitungannya dalam dolar, seperti harga tiket pesawat, paket tour, dan lainnya," jelas Marishcka pada VIVA.co.id

Namun, lanjut Marischka, bila dibilang berpengaruh hingga pada keputusan pergi ke luar negeri, sepertinya tidak terlalu signifikan. Menurutnya, ini karena pasar untuk traveling keluar negeri itu sebagian besar memang utk kalangan menengah ke atas yang memang sudah punya budget extra untuk traveling.

"Saya lihat di travel fair juga animonya masih tinggi sekali, teman-teman yang traveling ke luar masih tetap banyak," tambahnya.

Kondisi tersebut diamini oleh beberapa agen perjalanan, seperti Panorama Tour. Nanto, Travel Consultan dari Panorama Tour mengatakan bahwa wisatawan lokal yang berlibur ke luar negeri memakai jasanya tidak terlalu berkurang banyak.

"Enggak ngaruh banyak sih. Paling berkurang secara intensitas keberangkatan aja cuman semua destinasi keisi," katanya.

Soal harga tiket, ia mengaku naiknya kurs dolar Amerika terhadap rupiah cukup berpengaruh terhadap harga tiket penerbangan. Pihaknya memiliki sistem deposit untuk pembayaran.

"Kalau promo khusus gitu enggak ada. Kita tiket tergantung harga kurs. Jadi ada sistem deposit dan pelunasan. Misalnya pas awal ada sepostit 4 juta, ketika kurs sekian harga saat pelunasannya mengikuti kurs," jelas Nanto.

Pergeseran Destinasi
Saat harga dolar sedang tinggi, tren destinasi wisata luar negeri bergeser ke dalam negeri. Hal itu diungkapkan Gaery Undarsa, Managing Director Tiket.com, sebuah aplikasi pemesanan tiket. Ia mengatakan bahwa secara jumlah tiket tetap tinggi. Namun destinasinya yang bergeser.

"Sekarang justru destinasi domestik yang jadi primadona. Bahkan kenaikannya sampai 2 kali lipat," kata Gaery saat ditemui VIVA.co.id.

Untuk dari segi tujuan destinasi wisata, Bali dan Yogyakarta masih jadi tujuan favorit para wisatawan lokal.

"Bali justru jadi ramai. Sebelumnya ada pilihan mau ke Jepang atau kemana. Selain Bali ada Yogyakarta," tambahnya.

Hal itu juga diamati oleh Marischka Prudence, ia melihat tren berlibur kini berpindah ke dalam negeri.

"teman-teman yang traveling ke luar masih tetap banyak, namun ada sebagian yang jadi shifting mengubah destinasi menjadi dalam negri, sisi positifnya destinasi domestik jadi lebih naik lagi walaupun dari segi jumlah yang berpindah keputusan dari destinasi luar menjadi domestik tidak terlalu signifikan sepertinya," katanya.

Tips jalan-jalan ke luar negeri dari Marischka Prudence:

1. Seusaikan budget
Pertama tetap sesuaikan dengan budget, jangan karena dolar naik terus kita jadi ngutang untuk menutup itu, lebih baik menyesuaikan destinasi, jadi dibandingkan dengan destinasi yang menggunakan US dollar.

2. Negara Asia
Bisa mencoba negara-negara asia, masih banyak negara yang biaya hidupnya mirip-mirip dengan Indonesia sehingga budget daily seperti makan dan transport tidak terlalu bengkak

3. Transportasi
Hal lain tentu saja perencanaan, seperti tiket pesawat, walaupun dolar naik tapi maskapai selalu punya waktu promo tiket pesawat, saat itu kita beli jadi menekan budget.

Destinasi negara luar negeri yang cocok saat dolar naik
Saat dolar naik seperti sekarang, sebenarnya masyarakat bisa memilih negara-negara di Asia Tenggara. Hal itu diungkapkan oleh Windy Ariestanty, seorang penulis perjalanan yang pernah melakukan perjalanan selama 35 hari dari Afrika Utara sampai Italia.

"Buat aku kayak Vietnam, Myanmar, Laos menarik. Buat orang mungkin jarang, padahal itu sebenarnya justru para penyuka perjalanan dari eropa dan amerika dia malah jalannya ke sana," kata Windy.

Sekarang, tambah Windy, terjadi pergeseran. Orang-orang yang hidup di Eropa dan Amerika, jusru traveling ke Asia, Indonesia salah satunya.

"Negara yang paling sering mereka kunjungi sekarang trennya Myanmar, dia baru membuka diri, rasa ingin tau besar, biaya hidup jauh lebih murah," tambahnya bersemangat.

Berikut beberapa negara yang cocok dikunjungi saat harga dolar tinggi, dari Marischka Prudence dan Windy Ariestanty:

Myanmar
Seperti yang sudah dijelaskan oleh Windy sebelumnya, negara yang masih dalam kawasan Asia Tenggara ini memiliki daya tarik yang cukup kuat. Mulai dari budaya hingga biaya hidup yang cukup murah.

Kamboja
Windy mengatakan, yang membuat Kamboja terkenal kan si simp rap dan Angkor wat nya karena memang dari dulu, sejarah peradaban.

Thailand
Menurut Marischka, ada banyak destinasi di Thailand yang cenderung murah. Harga makanan dan penginapan juga murah, cenderung sama dengan di Indonesia dan bahkan banyak yang lebih murah juga

Filipina
Negara kepulauan ini juga termasuk destinasi dengan budget kecil, sangat memungkinkan untuk backpacker.

"Ketika kamu masih menyukai petualangan, pengen lihat yang beragam, negara-negara ini yang bisa kita samperin. Cuman pola pikir kita kalau jalan-jalan harus ke negara barat, padahal enggak. Asia tenggara cocok banget buat dieksplor," kata Windy
 
Sedangkan menurut Marischka, ada 3 daerah di Indonesia yang bisa dipilih untuk destinasi jalan-jalan murah meriah:

Lombok
Bisa jadi alternatif karena masih lebih tenang dibandingkan Bali, penginapan juga banyak yang masih murah, menyenangkan untuk backpacking dan masih banyak pantai yang sepi.

Tanjung Puting, Kalimantan Tengah
Surprisingly wisata susur sungai dan melihat orangutan di habitat aslinya ini cukup low budget, harga tiket ke Pangkalan Bun (entry untuk masuk Tj Puting) mirip-mirip dengan harga tiket ke Bali atau Lombok, untuk sewa kapal juga bisa murah jika beramai-ramai.

Kiluan, Lampung
Ini jadi pilihan backpacker yang murah, dengan budget 600-700 ribu sudah all in, tidak perlu tiket pesawat karena dari Jakarta bisa menyeberang dari Merak, sisanya jalan beramai-ramai sewa mobil bisa menekan budget.




Sudah diterbitkan dalam portal Viva.co.id rubrik Travel, berikut link selengkapnya:
http://life.viva.co.id/news/read/674913-liburan-murah-saat-dolar--munggah-

Thursday, September 10, 2015

Selamat malam, Jakarta.

Jakarta, 10 September 2015

Sore tadi jam 6, saya baru selesai bertemu salah satu narasumber di salah satu mall di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat untuk artikel mingguan edisi minggu depan. Menuju pintu keluar, langkah kaki saya terasa lebih berat. Rasanya lelah, bosan, capek, pusing, dan semua kalimat negatif berputar di otak.

Biasanya, saya paling malas pulang di jam-jam sibuk, memilih datang ke restoran cepat saji, duduk, ngetik, atau killing time sampai masuk jam 9 ke atas. Ketika lalu lintas enggak ruwet, bus trans jakarta enggak penuh sesak dan bisa dapat tempat duduk tentunya.

Tapi kondisi sore lain dari biasanya. Badan dan otak rasanya super capek, ditambah ada deadline yang menghantui. Akhirnya saya memutuskan pulang naik ojek online yang sekarang lagi populer.

Setelah memesan, saya menunggu di tangga dekat lobby barat mall. Tidak butuh waktu lama sampai pengendara datang, mungkin tidak kurang dari 5 menit. Saat sampai, dia menyapa dengan ramah lalu memberikan helm.

Saya termasuk langganan aplikasi ojek online ini. Enggak bisa dipungkiri, manfaatnya sangat baik untuk lalu lintas Jakarta yang super padat. Apalagi pekerjaan saya yang menuntut agar bisa 'belah diri'.

Setiap naik ojek, dalam perjalanan saya kebiasaan mengajak ngobrol pengendaranya. Kecuali kalau sudah benar-benar capek, males ngomong, atau pengendaranya kurang vokal, saya lebih banyak diam memperhatikan kelap-kelip lampu kendaraan

Sore tadi, saya melakukan kebiasaan saya itu. Pak Endin, pengendara ojek, orangnya ramah, menyambut saya dengan senyum. Dengan aksen sunda yang kental, saya dan dia pun ngobrol cukup aktif.

Pak Endin bercerita, ia tinggal di Jakarta sejak 1973 di perkampungan belakang gedung Polda, Senayan. Sekarang berubah jadi kawasan bisnis SCBD sejak penggusuran di tahun 1988. Dengan bersemangat, pak Endin cerita, wajah Ibukota dalam sudut pandangnya dari masa ke masa.

"Neng dulu mah boro-boro macet. Bisa dipakai trek-trek-an malah," ceritanya sambil tertawa, saya pun menimpali.

Di tengah kemacetan di depan Sudirman Citywalk, saya bertanya dalam hati, 'orang Jakarta itu sabar-sabar ya. Macet gini masih aja mau tinggal di sini' pertanyaan yang sering saya tanyakan berulang kali. Termasuk buat saya sendiri.

"Bapak pusing enggak sama macet jakarta?" tanyaku kemudian.

"ah neng, bapak mah santai aja. Enggak mau marah-marah, toh yang bikin macet kita juga. Kesel mah pasti neng, tapi dinikmati aja lah," jawabnya enteng.

Saya tersenyum. Memandang gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dari jembatan layang arah Kuningan. Memasuki jalan Dr. Satrio, lalu lintas lebih lancar. Saat itu saya menggumam, 'ternyata si ica udah setahun setengah berjuang di sini. Bisa juga ya?'

"Kalau neng udah berapa lama di Jakarta?" tanya pak Endin seakan tahu apa yang aku katakan.

"ah baru pak. Saya baru satu setengah tahun, dari awal 2014," jawab saya.

"waah baru atuh ya. Selamat datang di Jakarta, neng. Jakarta mah keras, neng-nya harus kuat. Jangan keasikan kerja terus lupa kesehatan, main, sama nyari pasangan. Palaur neng di kota orang gak ada yang jagain," kata pak Endin dengan lengkap.

Saat mendengarnya, saya tidak merasa ada nada sok tahu dari ucapannya, tidak ada nada menggurui. Yang ada adalah sebuah nasehat yang keluar dari bapak berusia 53 tahun dengan anak 6 dan cucu 5, yang khawatir terhadap kondisi perempuan yang bekerja di Ibukota.

"Neng kayaknya seumur anak saya, kelahiran berapa neng?" tanyanya kemudian.

"kelahiran 1991 pak hehehe. Harusnya sudah menikah ya?"

Pertanyaan itu sebenarnya jebakan. Jebakan untuk diri saya sendiri. Sengaja, karena orang tua biasanya khawatir melihat anak perempuan menginjak usia hampir 25 masih sendiri.

"Hehehe enggak harus sih neng. Yah mungkin sebaiknya. Biar neng ada yang jagain," katanya dengan nada seperti tidak enak.

Memasuki jalan Denpasar, di perempatan Mega Kuningan, saya menoleh ke kanan. memandang sebuah gedung yang sangat familiar buat saya.

"apa kabar ya dengan orang itu? Sepertinya dia sudah lebih baik sekarang," tanya saya dalam hati. Terselip sesak, tapi saya berusaha mengabaikannya.

Semenjak kejadian tiga bulan kemarin, saya terus mencari dan memilih 'potongan kue' Jakarta yang manis. Mengabaikan pahit, asam dan hambarnya.

Di awal kejadian itu, saya membenci Jakarta. Sangat. Amarah saya keluar lewat berbagai sumpah, akan pergi dari sini, keluar, dan tidak akan datang lagi.

Tapi setelah melalui berbagai perjalanan dan cerita, ternyata Jakarta bisa menyenangkan. Saya masih bisa bertemu teman baru, menikmati sore di atas jembatan penyebrangan, pergi ke toko buku, jalan kaki di trotoar, mengamati orang lalu lalang yang sibuk mengejar kereta dan bis, dan bisa bertemu orang baik yang masih langka di Jakarta, seperti Pak Endin.

Selamat malam, Jakarta. Saya tahu kamu baik :)



(Ditulis saat deadline cover yang menghantui. pppffffftttt)

Thursday, August 20, 2015

Jalan Anggrek

Bandung, 20 Agustus 2015

Tempat ini lebih ramai dari biasanya. Didominasi oleh anak berseragam putih biru yang baru pulang sekolah. Melihat mereka bersenda gurau sambil main ayunan di bawah pohon cukup besar, saya rasa mereka sangat bahagia. Tertawa bersama di temani sayup-sayup angin sore yang menenangkan. Karena biasanya, di usia segitu, mereka lebih senang menghabiskan waktu nongkrong di mall atau nonton bioskop.

Bisa juga mereka sebenarnya sering jalan ke mall, hanya saat ini sedang bosan dan mencari suasana baru di sini.

Tiga tahun lalu, saya dikenalkan tempat ini oleh dia. Mungkin tidak sengaja karena waktu itu, dia butuh tempat leluasa untuk ngobrol panjang. Dipilihlah taman ini yang tidak jauh dari tempat dia tinggal.

Tapi buat saya, taman ini punya cerita sendiri. Mungkin juga buat dia. Ah entahlah, saya sedang bercerita dari sisi saya.

Sebelum sebagus sekarang, taman yang berada di persimpangan jalan anggrek - kemuning ini terlihat tidak terawat. Tidak ada tempat duduk, ada pun ayunan tapi dudukannya hanya beralaskan lempengan ban dan kayu. Tidak ada tempat sampah dan kalau malam -katanya- kurang penerangan jadi sering dipakai tempat yang kurang baik.

Satu tahun belakangan, taman ini berubah cukup drastis. Banyak kursi, tempat sampah, ayunan terawat, arena bermain anak lebih banyak, penuh warna, bertema dan sering dijadikan tempat berkumpul komunitas fotografi. Ini karena program pemerintah kota Bandung yang ingin memperbanyak taman kota.

Tapi, ada hal yang tidak berubah, yakni banyaknya gerobak yang menjual aneka jajanan khas Bandung mangkal di sekeliling. Mulai dari cilok, baso bakar, batagor, cuanki, sampai minuman kesukaan saya, susu murni KPBS. Hehehe.

Akhir Maret lalu, saya dan dia datang ke sini. Duduk di salah satu sudut sambil tertawa mengingat apa yang terjadi tiga tahun ke belakang dan berkhayal bersama.

Meski banyak perubahan dari taman ini, dari sisi saya, justru tidak ada yang berubah. Padahal, cerita saya dan dia saat ini sudah sangat berbeda.

Bila dirunut ke belakang, ternyata Maret kemarin adalah momen terakhir saya dan dia mampir ke sini. Bersama. Naik motor. Duduk-duduk. Jajan susu murni atau cuanki yang rasanya kurang enak.

Tapi, tempat ini masih menjadi kesukaan. Masih menjadi tempat wajib yang saya datangi setiap pulang ke Bandung. Sekedar duduk santai, menikmati teduhnya langit dari celah ranting pohon sambil mengulang memori tiga tahun lalu, ketika saya pertama kali duduk di sini.

Ya, hal yang masih menjadi kesukaan adalah mengingat memori yang telah lewat. Meski selalu menyisakan sesak, namun rasanya, terlalu sayang bila harus dihilangkan begitu saja.

Pada akhirnya, saya tau, ada beberapa atau mungkin banyak cerita saya dan dia, yang sayang untuk dilupakan dan diabaikan.

Iya, saat ini saya diam di tempat. Hanya menjalani apa yang harusnya saya jalani. Bekerja - makan - tidur - sesekali bermain - tertawa. Seakan takut untuk melangkah. Terlalu riskan. Terlalu berbahaya. Entah sampai kapan.

Monday, June 22, 2015

Nirwana

Bandung, 22 Juni 2015

Sore itu saya tengah disibukan dengan kegiatan setiap pulang ke rumah, beres-beres dan menyiapkan makan malam. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. Setelah menyimpan mangkuk dan beberapa masakan, saya membuka pintu. Tidak ada perasaan apapun. Sangat biasa.

Ternyata yang datang adalah dia, orang yang sudah lama tidak menghubungi saya. Rona wajahnya tenang, terselip senyuman hangat dari bibirnya. Janggut yang terakhir kali saya lihat tampak lebat, kini berubah tipis rapi. Rambutnya dibiarkan ikal begitu saja, tidak berantakan tapi tidak rapi. Cukup. Sesuai dengan kesukaan saya biasanya.

"Hai," kata pertama yang dia ucapkan.

Bila rona wajah dia tenang, sangat berbeda dengan saya. Tegang, gugup, bingung dan mungkin tampak bodoh.

"Eh, hai," jawab saya canggung. Setelah diam sepersekian detik, saya persilahkan dia masuk.

Tidak lama setelah dia masuk dan duduk, Ibu melihat siapa yang datang. Karena sudah lama sekali tidak bertemu, Ibu terlihat antusias. Obrolan diantara keduanya pun mengalir. Selama ini, Ibu tidak tahu bila saya dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena sesuatu hal. Atau mungkin tahu, tapi lebih memilih diam dan tidak bertanya.

Setelah ngobrol panjang lebar dengan ibu, giliran saya yang mengintrogasi. Tapi tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulut saya. Hanya bisa diam, senyum tipis dan sedikit menunduk saat duduk di sebelahnya. Akhirnya dia yang membuka pembicaraan. Beberapa menit, saya lebih pasif. Iya - enggak kok - ya gitu aja. Hanya kata itu.

Sampai pada akhirnya, saya memberanikan diri untuk bertanya.

Dengan penuh emosi saya keluarkan kekesalan dan pertanyaan yang selama ini masih menjadi tanda tanya besar. Saya menarik nafas panjang, kemudian dia menggenggam tangan saya cukup erat. Tatapannya tenang, bukan amarah yang biasa saya lihat ketika membahas ini. Secara jelas ia menceritakan semuanya. Bagaimana ia sudah menyelesaikan masalah yang selama ini sangat abadi di antara saya dan dia.

Kemudian saya ingat kalimat dia dulu,

"Nanti kalau sudah selesai dan aku datang lagi, kamu boleh nanya semuanya dan aku bisa jawab," kata dia waktu itu. Memang bukan janji, tapi saya ingat. Dan ia tepati.



Tidak lama, seseorang menepuk bahu saya. Tiba-tiba saya berada di atas kasur sambil memeluk erat boneka tidur. Iya, ternyata saya bermimpi. Mimpi yang sangat indah dan mungkin terlalu berandai-andai.

dan sesak itu kembali datang.

Friday, June 19, 2015

Kepulauan Riau, Destinasi Wisata Kelas Dunia

Cakrawala begitu terang saat pesawat lepas landas meninggalkan Jakarta. Pagi itu, burung besi hendak membawa kami berkelana. Tujuannya, sebuah kepulauan yang ditasbihkan sebagai salah satu gerbang wisata Indonesia.

Tak terasa sudah satu jam lebih mengangkasa. Saat memasuki wilayah udara Bandara Hang Nadim, awan hitam menyelimuti langit. Pesawat sedikit guncang sebelum akhirnya ban mencengkeram aspal landasan yang basah sehabis hujan.

Inilah Kepulauan Riau (Kepri). Provinsi ke-32 di Indonesia yang berbatasan dengan lima negara; Vietnam, Kamboja, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Meski luas daratan hanya lima persen dari total luas wilayah sebesar 252.601 kilometer persegi, Kepri kini perlahan menjelma menjadi Bali-nya kawasan Barat Nusantara.

Pembangunan besar-besaran digelar. Resor mewah didirikan. Tengok saja Holiday Inn Resort, salah satu resor bintang empat di kawasan Waterfront, Nongsa, Batam. Lokasinya hanya 30 menit dari bandara, menjadikan resor ini sebagai pilihan favorit bagi pelancong untuk menginap.

Hari itu, jalanan dari bandara menuju resor cukup lengang. Bahkan kendaraan yang melintas bisa dihitung dengan jari. Pemandangan lebih didominasi pohon kelapa dan ilalang yang berderet di pinggir jalan.

Tak jauh dari Holiday Inn Resort, terdapat sebuah lapangan golf yang cukup luas. Waktu tempuh dari resor ke lapangan yang terletak di Palm Spring itu sekitar 45 menit.

Tiba di sana, wajah Batam yang ‘tandus’ berganti dengan hamparan rumput hijau dan berbukit. Dari kejauhan, tampak beberapa orang asing asyik bermain golf.



Palm Spring hanya satu dari 10 lapangan golf yang ada di Kepri. 10 Lapangan tersebut terbagi di dua tempat, yakni Batam dan Bintan. Dengan jumlah ini, tak heran Kepri dinobatkan sebagai kawasan dengan lapangan golf terbanyak di Asia Tenggara.

Pusat pembuatan animasi

Hari pertama di Batam dilanjutkan dengan kunjungan ke Kinema Systrans Multimedia. Siapa sangka, tempat tersebut telah memproduksi sejumlah animasi top dunia, seperti The Garfield Show, Leonard atau Dr.Contraptus, Lucky Luke, dan Franklin & Friends.

Dibangun di atas atas lahan yang cukup luas, wujud Kinema Systrans Multimedia cukup artistik. Bangunannya sangat besar dan terdiri dari dua lantai. Di depannya, terdapat anak tangga yang siap mengantarkan pengunjung ke pintu masuk.

Melongok ke lantai satu studio Kinema. Di sinilah tempat bagi sejumlah animator-animator terbaik di Indonesia menuangkan karya mereka. Para animator tampak sibuk membuat detail-detail animasi, mulai dari pembentukan siku, mata, hingga ekspresi wajah.

“Prosesnya dimulai dari pembuatan karakter, lalu animasi dibuat sambungan manusia namanya rigging. Lalu sampai pada tahap editing,” ujar Koordinator Kinema Systrans Multimedia, Vonita.

Suasana di studio sangat hening. Hanya terdengar bunyi tetikus dan keyboard yang digunakan para animator. Melangkah ke lantai dua, ada beberapa ruangan terpisah.

Ruangan pertama, berfungsi memajang berbagai properti syuting, seperti manekin, meja kerja, dan kamera tempo dulu. Kemudian ada pula ruang tunggu aktor dan aktris serta ruang yang biasa digunakan untuk rapat.






Vonita bersama timnya mulai merambah dunia produksi layar lebar saat ditawari membuat proyek film Dead Mine yang dibintangi Joe Taslim pada 2012. Semenjak itu, Kimena dilirik banyak sineas.

Salah satunya adalah film Blackhat yang dibintangi Chris Hemsworth. Aktor yang berperan dalam film Thor itu sangat kagum dengan studio yang dimiliki Kinema.

“Chris Hemsworth datang dan syuting di sini. Dia amaze dengan lokasi ini karena kalau di luar negeri, orang butuh pantai, mereka nge-set alat dan tempat. Kalau di sini mau pantai gampang, hutan gampang,” kata Vonita sembari tertawa

Gradasi warna langit kala senja tak pernah gagal memukau mata. Meski diwarnai mendung, senja di dermaga Nongsa Point Marina, Batam, tetap memesona. Dengan menggunakan mobil, dermaga Nongsa bisa ditempuh 15 menit dari studio Kinema.

Di sana bersandar puluhan kapal yatch mewah. Si empunya rata-rata orang asing. Kami pun berkesempatan berkeliling pulau dengan kapal yatch tersebut.

Kelap-kelip lampu terlihat dari kejauhan. Bila berpikir itu masih bagian dari Kepri, Anda salah. Itu sudah negara Singapura.

Jarak antara Batam dan Singapura yang sangat dekat, membuat banyak warga Singapura yang berwisata setiap akhir pekan. Waktu tempuh dari Singapura ke Batam hanya memakan waktu 45 menit melalui laut.

Puas menjelajahi Kota Batam seharian, saatnya memanjakan lidah dan perut. Pilihan pun jatuh pada seafood atau hidangan laut.

Kepiting, udang, cumi, dan gong gong hangat tersaji di atas meja. Hidangan yang terakhir ini mungkin masih asing di telinga beberapa orang. Gong gong sebenarnya sejenis siput laut. Cangkangnya panjang dan mengerucut.

Gonggong, siput khas Kepulauan Riau


Tekstur daging gong gong serupa dengan cumi, kenyal dan gurih. Biasanya gong gong disantap dengan sambal asam manis.

Hujan di Bintan

Memasuki hari kedua, cuaca tak kunjung bersahabat. Air kembali tumpah dari langit. Kabut tipis menutupi birunya laut dan suhu sedikit menggigit.

Kali ini, perjalanan kami berlanjut ke Pulau Bintan. Ada dua alternatif transportasi yang bisa dipilih, yaitu kapal feri dan speedboat.

Tarif kapal feri sekitar Rp65 ribu dengan waktu tempuh 40 menit. Namun jika ingin lebih murah dan cepat bisa menggunakan speedboat. Cukup mengeluarkan Rp48 ribu, kami bisa mencapai Pulau Bintan dalam waktu sekitar 20 menit.

Kabut mulai menipis saat speedboat merapat di Pelabuhan Tanjung Uban, Pulau Bintan. Suasana di sana cukup ramai. Beberapa orang tampak sedang menunggu kapal di dermaga sambil sesekali melirik jam tangan. Bintan merupakan destinasi wisata yang banyak dipilih warga asing dan lokal untuk menikmati keindahan ponarama pantainya.

Bila Anda berencana pergi ke Bintan, ada banyak jasa penyewaan mobil di sini. Tarif yang dikenakan sebesar Rp200-300 ribu per hari. Cocok untuk Anda yang ingin lebih jauh menjelajahi Bintan.

Jika Batam punya Holiday Inn Resort, maka Bintan memiliki resor yang tak kalah mewah. Ia adalah Nirwana Resort Hotel, Pulau Bintan. Ini merupakan salah satu resor terbesar di Bintan yang terdiri dari 245 kamar, kolam renang, taman, dan pantai.

Bintan juga tak pernah sepi dari acara bertaraf internasional. Saat kami menyambangi kawasan Pantai Nirwana Resort Hotel, tengah digelar Bintan Triathlon yang melibatkan 1.000 peserta dari seluruh dunia.

Meski gerimis, spirit para peserta tak lantas surut. Mereka antusias mengikuti kompetisi olahraga yang terdiri dari berenang di laut, maraton dan bersepeda ini.

Kolam terbesar se-Asia Tenggara

Selain menghelat acara bertaraf internasional, Pulau Bintan juga berambisi membangun resor kelas dunia. Hal itu dibuktikan dengan kehadiran Treassure Bay.

Berlokasi di tepi pantai, resor dengan luas 338 hektare itu masih dalam tahap pembangunan dan penyempurnaan. Beberapa bagian sudah mulai rampung. Salah satunya Crystal Lagoon, kolam renang terbesar se-Asia Tenggara.

Crystal Lagoon mengingatkan akan San Alfonso del Mar, kolam renang terbesar di dunia. Seperti diketahui San Alfonso del Mar berlokasi di Chile dan memiliki luas sekitar delapan hektare.

Sementara, meski luas Crystal Lagoon lebih kecil, yakni sekitar 6,4 hektare, kolam renang ini memiliki pemandangan spektakuler bila dilihat dari udara.

Sebanyak 115.060.000 liter air diperlukan untuk mengisi kolam renang yang dibangun di tepi pantai itu. Air yang digunakan pun berasal dari air laut yang sudah melalui proses sehingga warnanya sangat jernih.

Beruntung, mentari mulai menampakkan wajahnya saat kami menginjakkan kaki di Crystal Lagoon. Dari jauh, kolam renang ini tampak seperti pantai. Dasarnya yang berwarna putih menyerupai hamparan pasir. Sementara, airnya yang biru terlihat seperti lautan yang luas.

Lelah berenang di kolam renang super luas, pengunjung bisa beristirahat di sebuah penginapan yang cukup unik. Namanya Canopi. Penginapan ini menyediakan tenda-tenda besar yang menghadap langsung ke Crystal Lagoon.

“Tembok kan sudah biasa. Jadi kita buat ini,” ujar Managing Director Canopi, Wayan Santika.

Crystal Lagoon di kawasan Treasure Bay, Bintan

Jumlah tenda yang disediakan sekitar 41 buah. Di dalamnya terdapat satu tempat tidur berukuran besar, sofa, lemari berbentuk koper klasik, dan kamar mandi yang langsung beratapkan langit.



Tampak depan tenda di hotel Canopi 

Nantinya, akan ada enam penginapan di Treassure Bay dengan total 1.400 kamar. Penginapan ini diperkirakan rampung 2-3 tahun mendatang. Namun untuk Canopi dan Crystal Lagoon, baru bisa dinikmati mulai Juni mendatang.
Suasana di dalam hotel Canopi


Bersantap di tengah hutan bakau

Terang mulai berganti gulita di Treassure Bay. Waktu yang tepat untuk menyusuri hutan bakau yang bisa ditempuh sekitar 40 menit dari resor.

Di dalam hutan bakau ini terselip sebuah rumah makan. Untuk mencapainya, kami harus menggunakan perahu kecil berkapasitas 10 orang.

Dalam waktu 15 menit, perahu tertambat di rumah makan yang menyajikan berbagai hidangan laut tersebut. Malam itu, suasana di sana cukup ramai.



Selepas makan malam, tur selanjutnya adalah melihat kunang-kunang di sekitar hutan bakau.  Untuk menikmati atraksi ini, kami menyusuri hutan yang gulita dengan perahu.

Tak ada penerangan berarti. Hanya cahaya bulan dan sinar dari kunang-kunang menemani keheningan malam. Beberapa kali perahu kami berpapasan dengan perahu lain.

Vihara Seribu Wajah

Pintu masuk Vihara Seribu Wajah


Masih di Negeri Segantang Lada. Memasuki hari ketiga, cuaca cukup ramah. Langit membiru dan matahari bersinar terik. Waktunya menjelajahi Tanjungpinang, ibu kota dari Kepulauan Riau.

Tanjungpinang dikenal sebagai wisata sejarah dan religius. Terlihat dari beberapa destinasi wisata di sana. Pertama, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Dijuluki juga sebagai Vihara Seribu Wajah, tempat peribadatan umat Buddha ini terletak tepat di atas bukit.

Bangunan megah bergaya Tiongkok menyambut pengunjung saat tiba di sana. Warnanya didominasi abu-abu dan beratap merah. Dari kejauhan, tampak berjejer patung-patung Lou Han.

“Ini Lou Han, adalah murid-murid Buddha yang mau melepaskan kehidupan untuk mengikuti jalan Buddha. Setiap Lohan bisa jadi dewa tapi harus pakai proses,” ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tanjungpinang Bobby Jayanto.



Lou Han ini, lanjut Bobby, merupakan orang kepercayaan para dewa. Ada yang mengontrol soal hujan, petir, panas. Uniknya, jumlah asli patung ini ada 500. Namun karena banyak, warga sering menyebutnya Vihara Seribu Wajah. Alasannya, lebih mudah diingat.

Vihara Seribu Wajah ini masih dalam tahap penyempurnaan. Bobby mengatakan bahwa tinggal lima persen lagi sampai Vihara benar-benar siap dibuka. Ia menargetkan tahun ini Vihara sudah bisa dibuka untuk pengunjung.

Destinasi wisata religi kedua adalah Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Masjid ini terletak di Pulau Penyengat. Sekitar 20 menit menggunakan perahu kayu sederhana dari Tanjungpinang.

Letak Masjid Raya Sultan Riau Penyengat berada tepat di pintu pelabuhan. Gaya arsitekturnya sangat kental sentuhan Melayu dengan warna kuning mendominasi bangunan.

Sekadar informasi, kuning sering digunakan orang Melayu sebagai warna cat karena melambangkan kemegahan.

Ada banyak cara menikmati Pulau Penyengat. Salah satunya menggunakan sepeda motor atau becak motor. Biaya sewa dua kendaraan itu sekitar Rp30 ribu per jam.

Dijamu warga setempat

Warga di Pulau Penyengat juga punya kebiasaan unik. Jangan heran bila datang ke pulau Penyengat dengan jumlah lebih dari 20 orang, Anda akan diajak makan di rumah warga.

Ini sudah menjadi kebiasaan warga pulau menjamu para tamu. Hidangan yang diberikan pun sangat khas. Seperti sotong atau cumi masak hitam, yang dimasak dengan tinta cumi.  Kemudian ada juga pacri nenas yang merupakan kuliner khas Melayu.

Tidak jauh dari rumah warga tempat kami menyantap makan siang, terdapat makam Raja Ali Haji, seorang sastrawan yang membuat Gurindam 12. Desain bangunan makam masih didominasi oleh warna kuning keemasan.

Di bagian luar, terdapat makam-makam kerabat dari Raja Ali Haji yang wafat pada 1844 lalu. Sementara di bagian dalam, terdapat hasil karya Raja Ali Haji yang ditorehkan di atas batu dan diletakkan di dinding mengelilingi makam.

Terpesona Pulau Beralas Pasir

Sebelum matahari tenggelam, kami berkesempatan menikmati keindahan Pulau Beralas Pasir. Pulau ini berada di dekat Bintan. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk menggapai pulau dengan menggunakan speedboat.

Meski demikian, ombak cukup besar karena sudah memasuki area Laut China Selatan. Sesekali tampak bebatuan besar di tengah laut.

Perjalanan yang cukup mendebarkan ini tak sia-sia. Sesuai namanya, Pulau Beralas Pasir tersebut sangat menggoda dengan pasirnya yang berwarna putih.

Cuaca yang panas cukup menguras keringat dan dahaga. Alhasil, sebutir air kelapa muda langsung tandas.

Bercengkerama dengan Suku Laut

Air laut sedang surut saat kami menjejakkan kaki di kawasan Trikora, Kepulauan Riau. Sejauh mata memandang terlihat lumpur di kaki-kaki rumah panggung milik Suku Laut.

Suku Laut ini terdiri dari berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau serta muara di Kepulauan Riau. Aman Arafah, ketua RT Kelurahan Kawal yang menjadi tempat tinggal para suku laut mengatakan, awalnya mereka datang dari berbagai daerah di Kepulauan Riau.

“Dari tahun 1960-an sudah ada. Dahulu pakai sampan terus menetap di sini. Sekarang yang tinggal anak-anaknya. Orang aslinya sudah enggak ada. Paling satu saja,” katanya.



Kehidupan Suku Laut benar-benar di laut. Mereka membangun rumah panggung di bibir pantai. Beberapa sudah ada yang dibeton, bantuan dari pemerintah daerah setempat.
Pekerjaan utama para Suku Laut adalah nelayan. Biasanya, mereka pergi melaut pada malam hari dan pulang siang hari.

Aman menjelaskan, pendataan penduduk mulai dilakukan sejak tahun 2000. Saat ini suku laut berjumlah 17 kepala keluarga, setiap satu keluarga teridiri dari 4-5 orang.

Seiring waktu, suku laut sudah mulai modern. Beberapa anak ada yang bersekolah. Tetapi lainnya lebih banyak memilih belajar melaut untuk mencari ikan lalu dijual.

Thursday, June 18, 2015

Memaknai Perjalanan

"Every corner tells you different stories," Mocca - Bandung

Hari itu saya jalan-jalan bersama sepeda motor kesayangan. Menikmati sejuknya udara Bandung -meski memang tidak seperti dulu-, lalu lintas yang cenderung ramai lancar, nyanyi sepanjang perjalanan dengan eraphone melekat di telinga. Sejak merantau, ini seakan menjadi ritual saya setiap pulang ke rumah.

Tapi, dikepulangan saya minggu ini, ada rasa yang sangat berbeda.

Iya, sudah lama saya tidak menikmati kota ini bersama dia, orang yang saya kenal sejak 2010 lalu.

Setiap tikungan jalan seolah bisa bercerita,

Bagaimana saya dan dia tertawa bersama mengulang kalimat yang selalu saya ucapkan padanya setiap lewat tempat itu.

Bagaimana isengnya dia yang selalu mengendarai motor dengan kemiringan sekian derajat dan bilang 'skill individu' sambil mengepalkan tangan.

Bagaimana saya dan dia pernah berada di kondisi keuangan mencekik tapi ingin makan enak. Pada akhirnya beli nasi goreng dengan taburan daging di salah satu kafe, satu piring berdua. Bukan karena romantis, tapi kere.

Bagaimana saya dan dia punya tempat ibadah favorit.

Bagaimana saya mengajak dia untuk pertama kali donor darah.

Bagaimana dia memberi kejutan di hari ulang tahun lewat jendela kamar

Bagaimana dia tertawa mengingat saya yang 'ngiler' setiap lihat sarden

Bagaimana saya dan dia menjelajahi jajanan yang tersebar di kota ini.

Dan, bagaimana dia mengajak saya ke suatu taman kota kemudian mengulang pertanyaan yang jawabannya saya tunda sehari sebelumnya.

Dari jarak waktu hampir tiga tahun, mungkin bukan hanya tempat ini yang bisa bercerita. Ibukota yang penuh sesak, kota hujan dan tempat ayah dan ibunya tinggal pun sama.

Sesekali saya membenci tempat itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua perjalanan yang saya dan dia lalui sampai sekarang.


Entah akan seperti apa perjalanan ini, saya punya satu keyakinan, tidak ada yang bisa membuat saya berhenti percaya doa. Tuhan Maha Baik, Maha Segalanya.


i can take it, i will wait..

Sunday, June 7, 2015

10.20 PM

"Daripada gue memaksakan satu kemungkinan, mending membuka kemungkinan lain," kata seorang teman perjalanan.

Kalimat yang diucapkan pria berusia 31 tahun itu sangat melekat di dalam ingatan saya. Meski pada saat itu, ia tengah bercerita tentang kisahnya bersama wanita yang sudah menjadi masa lalu. Namun bukan ceritanya yang saya tangkap, melainkan prinsip yang dia pegang dari untaian kalimat itu.

Sebenarnya, apa indikator dari sebuah paksaan?

Ada beberapa hal yang sangat sulit dibedakan,
Antara memaksa, usaha dan berjuang
Pesimis dan tahu diri
Pikiran negatif dan antisipasi
Pikiran positif dan ketinggian
Rasa benci dan sayang

Semuanya abu-abu.

Saturday, March 14, 2015

1:38 AM

Di sudut kamar itu, saya memandang dia yang tengah berbicara di hadapan cermin seperti ada teman bicara. Dia adalah gadis yang sejak lama memimpikan tinggal jauh dari rumah. Gadis berusia 20-an dengan tingkat keras kepala dan ego yang tinggi, gengsi, dan semaunya.

Rasa ingin tinggal sendiri sudah dirasakannya sejak lama. Memimpikan suasana kamar sendiri, tidak berbagi tempat tidur dengan kakaknya. Memimpikan tidak adanya jam malam. Bebas pulang sesuka hati tanpa ada yang bertanya, "pulang jam berapa?" atau "jangan pulang malem-malem" atau "ngapain aja sih?" dengan nada cukup naik.

Kini gadis itu --bisa jadi saya, kamu, atau kalian-- sedang menjalani apa yang sudah lama diinginkan. Jauh dari rumah, jauh dari segala aturan yang ada.

Sampai pada satu titik, ternyata terselip rindu dibalik semua hal --yang dianggapnya-- menyebalkan. Rindu omelan sang ayah ketika sepatu masih tergeletak di depan pintu, rindu teriakan dua adiknya, rindu kejahilan sang ibu yang sering memainkan rambut.

Dan pada akhirnya, mau tidak mau, sekarang dia -gadis keras kepala- itu harus menahan rindu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Dan pada akhirnya pula, gadis itu baru menyadari, betapa berharganya sebuah 'pulang' dan tidak ingin jauh.

Seperti tidak ada alasan lagi bagi dirinya untuk bertahan di sini. Di ibukota yang penuh sesak.