Thursday, July 17, 2014

Pembuktian seumur hidup.

Satu tahun lalu, 8 Juli 2013 saya mempersembahkan sebuah gelar untuk orang tua dan adik-adik saya. Gelar yang saya raih dari 3 tahun lebih belajar di sana, kampus yang kecil penuh dengan keluhan mahasiswanya. Tapi ternyata, sangat dirindukan. Rindu berkumpul dengan mereka-mereka sampai malam. Sekedar tertawa bersama, makan gorengan 'standing party', ngopi, atau curhat sampai bego.

Perjalanan satu tahun dengan berbagai macam rasa, bahkan merasa seperti sampah. Tidak berguna.

Sudah satu tahun saya lulus dengan gelar sarjana. Sampai saat ini, apa yang sudah saya lakukan dengan titel itu? Bergunakah bagi orang lain? Saya masih belum yakin. Meski saya saat ini sedang menekuni bidang yang memberikan-informasi-dan-berita-pada-khalayak. Tapi saya masih belum yakin.

Saya harus bisa mendapatkan sesuatu dan berguna untuk orang lain dengan nama tambahan, agar perjuangan saya selama sekolah tidak sia-sia.

Ternyata menghadapi dunia kerja itu susah. Hahaha.
Sangat berbeda dengan sekolah dan kuliah.
Mungkin bisa dibilang ini adalah 'dunia' yang sebenarnya.

Jangan lelah untuk membuktikan bahwa diri ini mampu dan (lagi-lagi) berguna bagi orang lain dengan ilmu yang sudah didapat. Karena percuma sekolah tinggi-tinggi namun tidak ada yang bisa diamalkan dan dibagi dari itu. #SelfNoted.


5.41 PM
Di Kantor nunggu buka puasa, padahal nggak puasa.

Monday, July 7, 2014

Selamat!

730 hari. 48 minggu. 24 bulan. 2 tahun.

Perjalanan yang penuh kejutan, tanpa pernah saya duga sebelumnya.

Saya sering merasa perjalanan dua tahun itu tidak lama. Masih sebentar dibanding orang lain yang lebih dari tiga atau empat tahun. Tapi saat saya sadari, "ternyata lama juga, ya".

Padahal dulu jaman sekolah dan belum pernah menjalani hubungan dengan orang lain, melihat teman pacaran dua tahun rasanya lama banget. Tapi pas dijalani "kok nggak kerasa ya" hahahaha. Klise tapi memang terjadi.

Mungkin awal perjalanan kita agak aneh, penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. Terutama pada sisi saya. Terimakasih sudah sabar dan mau belajar. Saya harap kamu tidak berhenti sampai sini untuk terus bersabar, belajar dan menyingkirkan ego. Saya pun berusaha untuk hal itu.

Dengan kesibukan masing-masing, sama-sama di Ibukota tapi rasanya kayak Bandung - Jakarta.

Dengan waktu untuk bersama yang sangat sulit dijangkau. Sering membuatmu kesal dengan keribetan yang saya buat sendiri, kemudian menyesal setelahnya.

Semoga kita bisa menjadi lebih baik dan memperbaikinya.
Berusaha keras untuk akhir bahagia.

Selamat dua tahun, 10 hari yang lalu.