Tuesday, December 2, 2014

Geliat 'Tukang Kain' di JFW 2015

Membuka Jakarta Fashion Week 2015 hari keenam, Kamis, 6 November 2014, Obin lewat BinHouse menampilkan rancangan busananya dengan tema Aku Adalah Indonesia.
 
Dengan tema tersebut, Obin yang mengaku sebagai Si Tukang Kain ini memamerkan karya-karya kain Indonesia yang sangat indah dan beragam. Kecintaannya pada kain dan Indonesia tergambarkan dari semua rancangannya. Mulai dari ikat, tenun hingga batik.

"Kita brangkat dari kain baru sampai baju, jadi jangan dibalik. Kain semuanya make by hand. Dibikin dari hati," kata Obin dalam jumpa persnya di Fashion Tent, Senayan City, Jakarta Selatan, Kamis, 6 November 2014.

Ia menambahkan, Indonesia adalah cerminan diri. Hal itu tergambar dari cara berpikir, makan, perspektif tentang sesuatu, warna, bentuk gerakan, dan lagu. Elemen terakhir, yakni lagu, sangat penting bagi diri Obin.

Wanita bernama lengkap Josephine W. Komara ini membagi 49 rancangannya jadi 4 sekuen dengan tema lagu yang berbeda-beda. Namun tetap nuansanya serba menggambarkan tentang cinta.

"Saya selalu turun langsung saat gladi resik buat menceritakan ke model lagu ini tentang apa. Supaya mereka bisa membayangkannya," jelas Obin.

Sekuen pertama, menampilkan kain-kain simpel yang diikat dibagian pinggang. Warnanya dominasi gelap seperti coklat. Para model terlihat melenggak lenggok dengan sanggul di kepalanya dan selendang di leher sambil tersenyum malu-malu. Ini untuk menggambarkan perasaan jatuh cinta, ditambah alunan musik Prancis yang sangat romantis.

Sekuen kedua, para model tidak lagi berjalan lurus, kaku dengan sepatu hak tinggi. Semua serba santai, tertawa lepas, bahkan menari di atas runway. Di sini, Obin ingin menekankan unsur fun dan gembira lewat lagu Apanya Dong dari Titiek Puspa. Busana yang ditampilkan pun sangat Indonesia. Atasan dengan siluet longgar berwarna putih, rok selutut berwarna biru putih, dan jumpsuit berwarna merah dan biru sangat indah.





Sekuen ketiga, Obin masih menampilkan unsur cinta. Lewat lagu Adele yang dibuat menjadi keroncong, busana siap pakainya terlihat sangat indah dengan dominasi warna gelap.

Pada sekuen keempat, puncak tema Saya adalah Indonesia tergambar dari selendang berwarna merah putih yang dibawa oleh model dengan kain coklat dan blus putih. Setelah itu, busana lainnya hadir dengan warna tabrak lari namun tetap senada. Hijau menyala, shocking pink, kuning, biru. Semua menggambarkan Indonesia.

"Pada dasarnya menurut kita model busana ini paling cocok dengan orang kita. Tergantung acara ada yang formal dan fun," jelas Obin.

Ia pun menambahkan, kain yang dililit menjadi rok berdasarkan kebiasaan orang Indonesia yang senang memakai kain dan sangat nyaman.



Tentang kain
Dalam peragaan busananya kemarin, Obin enggan disebut semua rancangannya sebagai koleksi. Menurutnya itu sangat menggambarkan Barat.

"Kita ngga bilang ini koleksi. Itu sangat barat. Indonesia ngga punya season, we all season," tegas Obin.

Ia menambahkan bahwa warna Indonesia sangat beragam. Tidak bisa disamakan dengan luar. Bila memang sedang musim warna oranye, Obin melanjutkan, belum tentu warna itu cocok untuk desain kainnya.

"Kita kan indonesia. Semua warna ada," tambahnya.

Desainer yang sudah berkarya sejak 1986 ini konsisten dengan desain kebayanya. Aksen selendang yang digunakan saat JFW bermakna aksesoris karena setiap orang pasti menggunakan aksesoris.

Hilangkan Lemak dengan Tea Detox

Memiliki tubuh ramping dan ideal adalah keinginan setiap wanita. Seringkali mereka mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk melakukan operasi sedot lemak dengan dihantui berbagai risiko kesehatan.

Melihat hal tersebut, Tea Spa, salah satu tempat spa di Jakarta yang menggunakan teh sebagai bahan utamanya ini membuat satu paket perawatan bernama Tea Detox.

Andradea Putri, pemilik dari Tea Spa menjelaskan, penggunaan teh sebagai bahan bakunya karena teh kaya akan manfaat.

"Teh memang dipercaya memiliki zat anti radiasi, UV protection, antioksidan tinggi, sehingga bagus untuk kesehatan kulit, jantung bahkan kanker," katanya saat ditemui VIVAlife di Tea Spa, Jakarta Selatan, Rabu, 19 November 2014.

Bertempat di kawasan Senopati, tepatnya di Jl. Gunawarman no. 9, Tea Spa hadir memanjakan para warga Jakarta yang disibukan oleh berbagai aktivitas sehari-hari. Lokasinya yang berada di pusat kota, menjadikan Tea Spa digemari pengunjung hingga harus reservasi terlebih dahulu.

Sesampainya di Tea Spa yang berada di lantai dua ini, Anda akan disambut oleh para terapis yang ramah. Mereka menawarkan berbagai pilihan paket perawatan. Namun bagi Anda yang ingin menghancurkan lemak-lemak di dalam tubuh, bisa mencoba Tea Detox yang menggunakan teknik french massage.

"Relaksasinya pakai teknik khusus dengan french massage untuk melunturkan lemak-lemak tubuh dan detoksifikasi lewat urin dan keringat. Ini program untuk shapping," tambah Dea.

Setelah memilih paket, Anda juga bisa memilih minyak pijat sesuai selera. Yakni green tea, chamomile, peppermint dan jasmine.

Kemudian Anda akan diajak ke dalam ruang pemijatan. Menuju ke sana, Anda akan melihat interior dinding kayu dan lantai dihiasi batu-batu cantik. Suasana kalem dengan dentuman musik gamelan khas Jawa mengisi setiap sudut ruangan.

Perawatan diawali dengan tea foot bath yang bermanfaat untuk menghilangkan bakteri dan mengurangi bau kaki. Kaki Anda akan direndam selama 5 menit di dalam air hangat dengan campuran teh hitam dan garam laut.

Selanjutnya adalah proses penghancuran lemak dengan teknik french massage yang diawali di bagian punggung. Dea, pemilik dari Tea Spa mengatakan bahwa dalam teknik ini sedikit lebih keras dari yang pijat tradisional.

"French massage fokus ke bagian lengan, paha, perut, dan pinggang dengan proses pencubitan. Biasanya yang treatment ini nggak tidur soalnya pijatan agak keras," kata Dea.

Saat terapis mulai melakukan pemijatan, sangat terasa bahwa teknik ini memang dikhususkan untuk penghancuran lemak. Dengan fokus ke titik-titik yang biasa 'diserang' lemak. Proses dari french massage ini sekitar satu jam.

Selanjutnya, adalah face massage. Dalam pake perawatan tea detox, ada satu bahan masker wajah yang cukup unik, yakni kombucha. Kombucha sejenis jamur pemakan teh yang hidup di air gula dan teh. Meski wanginya sedikit menyengat dengan sensasi asam atau kecut, khasiatnya tidak perlu diragukan lagi.

"Walaupun agak menyengat baunya. Banyak orang yang tetap pakai kombucha. Khasiat nya mencerahkan kulit dan mengecilkan pori-pori karena kandungan vitamin C yang kuat," kata Dea.

Sebelum menggunakan kombucha, wajah Anda dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian dipijat dengan gerakan dari bawah ke atas untuk melawan kerutan pada wajah. Setelah itu peeling, baru kemudian kombucha dan dilapisi oleh serum dengan sensasi dingin. Suasana yang tenang akan membuat Anda tertidur dalam proses masker wajah yang memakan waktu 15 menit.

Tak sampai di situ, Tea Spa pun telah menyediakan satu perawatan spesial, yang membuatnya berbeda dari tempat spa lain, yakni berendam dalam air teh.

"Semua paket perawatan di sini memang disediakan berendam dalam air teh. Customer bisa memilih, mau berendam dengan teh apa. Ada black tea, green tea, white tea dan ulong tea," kata Dea.

Bila mampir ke Tea Spa, Anda akan dimanjakan dengan perawatan berbeda dengan tempat spa lainnya. Ingin mencoba? Dengan Rp310 ribu, Anda bisa mendapatkan perawatan paket tea detox yang membuat tubuh segar kembali. Selamat memanjakan diri!

4.07 PM


Laptop saya baru saja sembuh dari sakitnya. Ini artinya saya bisa kembali bekerja menggunakan barang pemberian bapak 4 tahun lalu. Meski sudah agak lemot dan terkadang eror, saya tetap keukeuh nggak mau menjual bahkan memberikannya pada orang lain. Maklum lah, udah menemani saya dari jaman kuliah sampe bisa lulus dan sekarang bekerja. Hehehe.

Benda ini tempat saya menyalurkan semua hobi dan unek-unek lewat menulis. Dari dulu saya memang senang menulis. Yaa meski isinya nggak penting. Ternyata memori itu masih tersimpan di sini dan membuat saya sedikit flashback pada jaman kuliah. Hmm.. Mungkin banyak sih ngga sedikit. Hahaha! Tapi saya mau fokus sama satu hal. Lagu.

Masih ada lagu jaman ngerjain tugas dari tengah malam sampai pagi yang ditemani dia lewat yahoo messenger.

Hehehe.

Almost 4 years ago.

Ternyata saya kenal dia hampir 4 tahun sejak ospek angkatan 2010. Padahal waktu saya masuk kuliah tahun 2009, dia jadi kakak pembimbing kelompok lain. Tapi saya nggak kenal, tau juga nggak. Feels like FTV, right? Huahahahaa!

Dengan segala lika-liku pertemanan kami yang dimulai saat sama-sama jadi panitia ospek 2010 hingga 2012, Tuhan memberi jalan saya dan dia untuk lebih mengenal satu sama lain. Bukan sekedar tukang curhat dan teman dekat.

Sebelum memasuki tahap itu, di pertengahan tahun 2011 sampai awal 2012 merupakan waktu paling membuat saya gila. Gila karena ada keadaan yang paling saya benci. Tapi siapa yang bisa mengelaknya? Toh itu yang membuat saya dan dia bisa menjadi seperti saat ini.

Terkadang ada hal yang akan selalu begitu, tidak bisa dirubah. Seperti masa lalu, karena saya paham bahwa setiap orang pasti memiliki masa lalu. Dan mau tidak mau, dalam masa lalu buruk dia, ada saya di sana. Saya terlibat. Tapi sayangnya (waktu itu) bukan sebagai pemeran utama.

Lagu ini memang membuat saya merinding. Mengingat masa-masa menyebalkan. Saya ingat, dulu saya paling benci mendengar lagu ini. Bahkan teman memutarnya kenceng banget, saya memilih pergi dari ruangan itu.

Tapi saat ini berubah. Dengan tidak sengaja lagu itu terputar kembali. Membuat rekaman memori di pojok otak saya kembali mengisi seluruh pikiran.

Ternyata lagu ini masih ada, belum saya hapus. Saya hanya bisa tersenyum. Meski masih merinding. Hahaha. Tapi efeknya tidak seburuk waktu itu. Yah, life about choices. Mau di situ-situ aja atau bergerak.

Tidak ada orang yang bisa memilih masa lalunya akan diisi dengan siapa dan bagaimana. Manis atau pahit. Saya hanya bisa me-masa bodo-kan dan tidak peduli.

Thursday, October 9, 2014

be thankful, ca.

Ini bukan ungkapan kesombongan, hanya sedang merasa bersyukur. Bersyukur atas apa yang saya dapatkan dari pekerjaan saya sampai saat ini.

Nggak gampang untuk merasakan ini. Mungkin saya akan kembali merasa lelah lalu kemudian mengeluh dengan segala keluh kesal menyebalkan.

Menjadi jurnalis bukan hal mudah tapi terlihat mudah juga. Bingung? Haha. Kalau ini simpulan yang salah, koreksi ya.

Begini, sering banget orang bilang "enak ya ca kerjaan kamu. Ngga ada jam kerja, brangkat sesuai waktu liputan. Kerjaannya jalan-jalan terus"

Hehehe. Alhamdulillah. Tapi jujur, ini bukan mau saya. Maksudnya, jenis media. Dulu jaman kuliah, saya paling ogah terjun di dunia media online. Pertama, sehari mengharuskan bikin sekian berita, kedua, kemana-mana sendiri. It means, single fighter.

Saya bercita-cita menjadi reporter televisi, kemana-mana naik mobil dan tidak sendiri. Manja ya? Hahahaha! Bodo amat :p

Tapi Tuhan menyuruh saya nyemplung di sini. Dua kali saya masuk ke media yang kemana-mana-sendiri. Pertama koran dan sekarang online. Ya, kalimat "semakin kamu menghindar semakin dipertemukan" yang sering saya ucapkan ke orang sekitar balim lagi ke saya. Bumerang.

Ketika memutuskan keluar dari koran dan mencari tempat bernaung yang baru, saya masih tidak mau menyentuh dunia online terutama portal. Beberapa tempat yang saya apply memang online tetapi menjadi content writer, bukan wartawan bukan jurnalis. --meskipun saya belum begitu paham betul tentang content writer, ini ica sotoy :p-- Tapi akhirnya nggak nyangkut juga. Lalu dengan iseng dan asal-asalan, saya melamar ke tempat bernaung yang sekarang.

Terlalu dini kalau saya menyimpulkan ini adalah karir yang akan saya tekuni sampai nanti. Belum juga setahun. Saya sedang merasa cukup. Saat ini sih, nggak tau besok-besok mengingat saya orangnya moody dan sesuka hati :p

Tapi saya berusaha untuk bersyukur. Bisa bekerja pada bidang yang saya senangi dengan orang-orang menyenangkan. Meski memang harus kemana-mana sendiri, naik angkutan umum, nanya jalan, ongkos abis --eh bisa di reimburse deng-- tapi dibalik itu semua, saya jadi tau rute jalanan ibukota yang lebih dari rumit, nggak ada patokan jam kerja, nggak selalu ke kantor, bisa ngetik berita dimana aja sambil ngapain aja --tinggal bermodal gadget yang ada baterai dan paket internet-- bertemu orang tidak terduga dan belajar hal baru setiap harinya.

Saya lagi eling. Alhamdulillah bisa eling juga hahahaha! Semua proses. Saya sedang berusaha bersyukur dan nggak berpikir "enak banget ya dia bla bla bla..." Sementara saya punya hal yang harus disyukuri.

Jadi, simpulkan sendiri mana bagian mudah dan nggaknya jadi jurnalis :p

Dan entah saya akan bergelut dalam bidang ini berapa lama dan sampai kapan...


Transjakarta, 9 Oktober 2014.

Perjalanan pulang selesai jadi jurnalis kantoran.

Friday, September 19, 2014

Pancarkan Cantik Anda dengan Totok Aura


Dalam melakukan perawatan tubuh, wanita sering ingin mencoba sesuatu hal baru. Totok aura bisa menjadi pilihan bagi Anda, para wanita yang disibukan dengan berbagai aktivitas sehari-hari. Salah satu tempat yang mempelopori perawatan tersebut adalah Dian Kenanga.

Totok aura merupakan kolaborasi antara terapi tenaga perana atau bio energi disertai totok atau acupressure. Sementara itu, acupresure merupakan metode yang menyerupai akupunktur tanpa jarum.

Manfaat dari totok aura bagi kesehatan sangat banyak, selain melancarkan peredaran darah, juga dapat membantu menyeimbangkan metabolisme dalam tubuh, regenerasi sel, enzim-enzim terserap dengan baik oleh darah, dan otomatis otak mendapatkan suplai oksigen serta nutrisi lebih baik.

“Aura itu sendiri artinya energi, dalam bahasa Yunani asal usul bahasa aura disebut sebagai riang gembira atau diterjemahkan secara bebas adalah energi yang dinamis. Itu energinya,” kata Dian Priharjati, pemilik dari Dian Kenanga saat ditemui VIVAlife di Pejaten, Jakarta Selatan, Jumat, 12 Agustus 2014 lalu.

Dian menambahkan, ada manfaat tambahan bila rutin menjalani terapi totok aura. Yakni wajah akan terlihat awet muda. Hal itu dikarenakan gerakan pijatannya mengarah ke atas, melawat gravitasi yang memperlambat kerutan dan menghilangkan noda hitam.

Titik penekanan dalam totok aura pada wajah di antara mata, tulang hidung, alis hingga atas kepala. Penyaluran bioenergi ini juga diikuti dengan teknik pernapasan yang baik.

“Para terapis mengumpulkan energi positif di tangan kemudian disalurkan ke tubuh pelanggan dengan cara acupressure, sehingga terapi totok aura ini sangatlah penting untuk kesehatan tubuh,” jelas Aria Abiasa, suami Dian yang juga pemilik dari totok aura Dian Kenanga.

Bila Anda ingin melihat efek dari totok aura ini, bisa mencobanya sekali dalam seminggu.

Dian Kenanga menyediakan totok aura wajah, totok aura payudara, totok aura getar syaraf dan totok aura tubuh yang melingkupi organ vital.

Untuk wanita, terapi organ vital dapat melancarkan haid dan mencegah keputihan bahkan untuk pasangan yang belum mempunyai keturunan dapat melakukan terapi ini. Selain itu ada paket treatment dengan 12 kali terapi dengan harga lebih murah.

Kisaran harga di Dian Kenanga mulai dari Rp40 ribu sampai Rp970 ribu. Selain di Pejaten, Dian Kenanga ada di 3 tempat lainnya. Yakni, Ampera, Bintaro dan Depok. Bila ingin mencoba bisa langsung datang ke Dian Kenanga atau klik di website www.diankenanga.com

Telah di-posting dalam kanal life style di VIVA.CO.ID pada Senin, 16 September 2014

Pentingnya konsumsi vitamin C



Dalam merawat tubuh, tidak harus selalu melakukan perawatan. Inner beauty atau kecantikan dari dalam diri juga harus diperhatikan. Terkadang hal itu yang sering luput dari perhatian wanita.

Wanita diciptakan untuk tampil cantik dan menarik. dr. Juliana Yu, MD. H, NH seorang pakar kecantikan mengatakan bahwa dilihat dari perkembangan yang sudah sangat maju, wanita mulai merawat dirinya.

"Kalau saya lihat 10 tahun belakangan ini wanita Indonesia mulai peduli," katanya saat ditemui VIVAlife di kliniknya House of Skinovation di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 18 September 2014.

dr. Juliana menambahkan, gaya hidup pun mempengaruhi. Seperti selalu melakukan hal yang disukai. Hal itu dapat membuat wajah lebih cerah dan memperlambat penuaan kulit.

Dokter yang sudah membuka kliniknya selama 16 tahun ini menyarankan agar wanita mengonsumsi vitamin C sejak usia 12 tahun. Ini dikarenakan vitamin C mengandung healing power yang kuat dan anti oksidan.

"Kalau sudah 12 tahun sudah boleh minum vitamin C. Karena vitamin C mengandung anti imfalasi yang kuat, zinc dan magnesium sangat penting. Seengganya 500mg perhari," tambahnya.

Untuk orang yang memiliki penyakit maag, ia menyarankan untuk mengonsumsi vitamin C setelah makan.


Telah diterbitkan dalam kanal life style di VIVA.CO.ID pada Kamis, 18 September 2014

Thursday, August 7, 2014

3.05 PM

Karena kita adalah orang berbeda. Meski banyak kecocokan, tapi perbedaan pun tidak kalah banyak. Sudut pandang, sikap, dan pemikiran jelas berbeda.

Ada hal yang akan tetap begitu. Yang salah adalah memaksakan kehendak. Menyamakan pandangan saya dan kamu, padahal jelas-jelas beda.

Kita harus saling menghargai dalam hal apa pun dan kapan pun.
Karena menghargai salah satu kunci hubungan bahagia.

Kantor, 7 Agustus 2014
Sok tau gegara abis nulis soal asmara



Thursday, July 17, 2014

Pembuktian seumur hidup.

Satu tahun lalu, 8 Juli 2013 saya mempersembahkan sebuah gelar untuk orang tua dan adik-adik saya. Gelar yang saya raih dari 3 tahun lebih belajar di sana, kampus yang kecil penuh dengan keluhan mahasiswanya. Tapi ternyata, sangat dirindukan. Rindu berkumpul dengan mereka-mereka sampai malam. Sekedar tertawa bersama, makan gorengan 'standing party', ngopi, atau curhat sampai bego.

Perjalanan satu tahun dengan berbagai macam rasa, bahkan merasa seperti sampah. Tidak berguna.

Sudah satu tahun saya lulus dengan gelar sarjana. Sampai saat ini, apa yang sudah saya lakukan dengan titel itu? Bergunakah bagi orang lain? Saya masih belum yakin. Meski saya saat ini sedang menekuni bidang yang memberikan-informasi-dan-berita-pada-khalayak. Tapi saya masih belum yakin.

Saya harus bisa mendapatkan sesuatu dan berguna untuk orang lain dengan nama tambahan, agar perjuangan saya selama sekolah tidak sia-sia.

Ternyata menghadapi dunia kerja itu susah. Hahaha.
Sangat berbeda dengan sekolah dan kuliah.
Mungkin bisa dibilang ini adalah 'dunia' yang sebenarnya.

Jangan lelah untuk membuktikan bahwa diri ini mampu dan (lagi-lagi) berguna bagi orang lain dengan ilmu yang sudah didapat. Karena percuma sekolah tinggi-tinggi namun tidak ada yang bisa diamalkan dan dibagi dari itu. #SelfNoted.


5.41 PM
Di Kantor nunggu buka puasa, padahal nggak puasa.

Monday, July 7, 2014

Selamat!

730 hari. 48 minggu. 24 bulan. 2 tahun.

Perjalanan yang penuh kejutan, tanpa pernah saya duga sebelumnya.

Saya sering merasa perjalanan dua tahun itu tidak lama. Masih sebentar dibanding orang lain yang lebih dari tiga atau empat tahun. Tapi saat saya sadari, "ternyata lama juga, ya".

Padahal dulu jaman sekolah dan belum pernah menjalani hubungan dengan orang lain, melihat teman pacaran dua tahun rasanya lama banget. Tapi pas dijalani "kok nggak kerasa ya" hahahaha. Klise tapi memang terjadi.

Mungkin awal perjalanan kita agak aneh, penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. Terutama pada sisi saya. Terimakasih sudah sabar dan mau belajar. Saya harap kamu tidak berhenti sampai sini untuk terus bersabar, belajar dan menyingkirkan ego. Saya pun berusaha untuk hal itu.

Dengan kesibukan masing-masing, sama-sama di Ibukota tapi rasanya kayak Bandung - Jakarta.

Dengan waktu untuk bersama yang sangat sulit dijangkau. Sering membuatmu kesal dengan keribetan yang saya buat sendiri, kemudian menyesal setelahnya.

Semoga kita bisa menjadi lebih baik dan memperbaikinya.
Berusaha keras untuk akhir bahagia.

Selamat dua tahun, 10 hari yang lalu.

Saturday, June 7, 2014

Running Man Team!

"Nonton bola itu rasanya kayak dihipnotis. Perlahan bikin mata berat, ngantuk kemudian tidur" - riska herliafifah 22 tahun, bukan tipe perempuan suka bola.

Itu beneran terjadi. Saya memang tidak hmm mungkin bukan tipe perempuan penyuka sepak bola tapi senang dengan euforianya. Gimana ya? Gini deh, kalau ada pertandingan Indonesia lawan Malaysia saya suka nonton, tapi cuma sekedar menonton kemudian nggak betah wehehe. Terlebih sampai sekarang saya nggak ngerti sama istilah offside. Padahal sudah dijelaskan berulang kali. Otak nolak kali ya? Wehehehe. Bisa dibilang fans karbitan nggak tuh? -walaupun ogah disebut begitu-

Saya suka melihat orang serius nonton bola, melihat orang nge-fans terhadap klub favoritnya. Sepertinya menyenangkan tapi mungkin saya tidak berminat.

Karena saya nggak suka nonton bola, maka saya nggak pernah masuk stadion. Kecuali jaman SMA buat ujian praktek lari di lapang merah UPI. Dua hal itu dipatahkan dengan kejadian seminggu lalu.

Saya melihat para idola (yang bukan klub sepak bola) bermain bola-di stadion-secara langsung. Menyenangkan? Jelas! Meski saya nggak ngerti bola, meski saya nggak ngerti istilah-istilah bola (kecuali gol dan out), meski saya tetap mengantuk di stadion yang kondisinya riuh, saya bahagia sekali! Apalagi itu gratis :'')

Pekerjaan saya sebagai reporter online yang membuat saya punya kesempatan itu. Kayaknya baru kali ini saya merasa bersyukur masuk ke dunia peliputan.

Saya bertemu dengan member Running Man, game show terkenal asal Korea Selatan yang seru (pake banget). Rasanya? Gembira, senang, bahagia! Lebay ya? Kemudian saya berpikir, oh gini ya rasanya bertemu idola luar negeri, dan itu gratis (terus aja diulang kata gratisnya).


Apa kabar kalau So Ji Sub sama Matt Damon datang ke Indonesia dan saya dapat kesempatan yang sama untuk meliput? Kayaknya pingsan di tempat hahahaha! Mereka, para hot papa :')

Sedekat ini!

Sedekat ini! (2)

Sedekat ini! (3) HAHAHA

Thursday, May 29, 2014

12.15 PM

Apa yang masing-masing dari kita alami memang tidak sederhana. Saya sering merasa, ini kalau ditulis jadi FTV kayaknya cocok. Hahahaha. Walaupun setelah saya pikir-pikir, norak juga dibuat cerita begitu. Dalam masa lalu kamu, ada saya di sana. Saya terlibat. Ada peran saya. Dan masa lalu pasti menjadi paket dalam hidup seseorang.

Masa lalu memang tidak bisa sepenuhnya dilupakan, tapi yang bisa saya lakukan adalah me-masabodo-kan hal itu dan tidak peduli. Karena kamu pun sudah meninggalkan jauh di belakang.

Saya tidak pernah membayangkan perjalanan kita sampai sejauh ini. Hampir dua tahun sejak Juni 2012. Ya, bulan depan akan menginjak tahun kedua. Perjalanan yang penuh dengan pembuktian.

Semoga perjalanan kita bisa bermuara pada akhir bahagia.

Aamiin.


Kantor, 29 Mei 2014
Tanggal merah yang tetep ngantor karena piket



Monday, May 5, 2014

old

Foto memang ajaib.
Ia merekam momen yang mungkin tidak akan terulang. 
Terutama untuk momen itu.
Tertawa bersama, sampai saya nggak sanggup menahan pipis -dan nyaris saja seperti nunung OVJ untung tidak- dan berfoto. 
Kejadian itu tidak akan terulang lagi.
Mungkin lebih tepatnya, tidak mau saya ulangi lagi saat ini dan seterusnya.
Sampai kapanpun.



Monday, April 14, 2014

Dari Skripsit Jadi Duit


Ide bisnis bisa dari mana saja dan kapan saja. Tidak terkecuali bagi Agung Putro Setio yang sudah menekuni bisnis menjelang lulus kuliah. Idenya pun sederhana, cemilan di saat menemani menyelesaikan skripsi. Ia menamakan kripiknya dengan skripsit alias Sebungkus KRIPik pangSIT.
Saat itu, pria lajang 25 tahun ini sedang mengudap keripik. Namun keripik yang disantapnya terlalu pedas dan tidak memiliki rasa lain. Agung yang sedari kecil gemar makan keripik mencoba membuat kreasi sendiri.
Ia pun teringat olahan ibunya yang setiap hari membuat cemilan keripik pangsit (tepung terigu). Namun pangsit sebagai bahan baku utama dagangannya ini terbilang istimewa yang ia dapatkan dari distributor langganannya di Pasar Kiaracondong, Bandung. Biar lebih spesial, Agung meminta agar pangsit yang dia pesan tidak sama dengan pangsit yang dibeli pembeli lain.
Untuk membedakan dengan keripik yang sudah dijual bebas di pasar, pria lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Bandung itu menambahkan rasa lain yang disebutnya dengan nuansa, seperti nuansa lada (pedas), nuansa kiju (keju), nuansa balado, nuansa sapi panggang, nuansa pija (pizza), nuansa barbekiyu, nuansa jagong (jagung), nuansa diherang (polos dengan sedikit bumbu ayam bawang).

“Kayaknya sudah terlalu banyak kalau jual keripik singkong berbasis lada-ladaan (pedas), kalau kata anak dulu yang hidup sekarang sih terlalu mainstream,” katanya.

Usahanya ini dimulai Oktober 2013 di saat menyelesaikan skripsinya. Modalnya pun cukup Rp 500 ribu hasil mengumpulkan uang saku setiap hari. Agung ini lumayan berhemat soal urusan jajan, dia pun rela puasa demi bisa menabung dan mewujudkan impiannya tersebut.

Sebenarnya Agung ini juga sempat jualan sepatu yang dijajakan ke teman-teman sekampusnya. Namun usaha tersebut kurang laku, meski ia juga bisa mengumpulkan modal usaha dari hasil menyisihkan penghasilan menjual sepatu.

“Sebenarnya yang jadi modal awal bukan uang, tapi niat, tekad, tanggung jawab, dan tekun,” katanya

Usaha tersebut ternyata berbuah manis. Berbekal nasib yang sama sebagai mahasiswa nyaris abadi, karena kuliah yang seharusnya selesai dalam empat tahun, ternyata harus molor hingga 6,5 tahun. Ia mampu menjual sekitar 150 hingga 200 bungkus keripik per hari.
Ia juga menjual keripiknya dengan harga terjangkau kantong mahasiswa, cukup Rp 5 ribu per bungkus. Maklum, sasaran utama kudapan ini masih sebatas mahasiswa di lingkungan kampus. Ia pun meminta tolong temannya untuk mempromosikan keripik pangsitnya agar pemasaran lebih meluas.
“Karena usaha saya masih seumur jagung, omsetnya juga masih belum besar. Untung kotornya juga masih Rp 400 ribu. Tapi saya bertekad untuk membesarkan usaha ini,” katanya. | Riska Herliafifah