Sunday, June 10, 2012

4.31 PM

Ini tulisan pertama setelah hilangnya mood menulis menjadi trending topic di pikiranku. Bolehkah aku sedikit bercerita disini? Ah masa ngga boleh, ini kan duniamu, riska. *iya, ngomong sendiri lagi*

Setiap ada hasrat menulis, selalu kayak gini tahapnya: ngetik - dibaca - CTRL A - delete. Selesai. Kenapa? Entahlah, aku juga bingung. Apa ada hubungannya dengan kalimat yang ditulisnya waktu itu? *mikir *gamau jawab. Akhir-akhir ini (yang sebenarnya sudah sering dilakukan dari dulu tapi menjadi jarang) aku sering melakukan percakapan dengan diri sendiri. Bahasa enaknya, ngomong sendiri. Dan itu sering terlihat oleh beberapa teman. Hahahahahahaha mungkin gila, tapi aku punya banyak alasan untuk itu.

Ngomong sendiri, ngomong sama kaca, ketawa sendiri dan bla bla bla yang dilakukan dengan diri sendiri itu menenangkan. Tidak perlu takut ngga diwaro dengan lawan bicara, karena toh lawan bicaranya diri kita sendiri kan? Ngomong sendiri itu menyayangi diri sendiri. Terkadang kita lupa mendengar suara dari hati kecil sendiri karena terlalu sibuk memikirkan apa kata orang (very me). Berbicara dengan diri sendiri itu, heuuumm membuatku mengendalikan apa yang ada dalam diri. Ngomong sama kaca, sibuk dengan pikirannya, lebih membuat apa yang ada didalam hati keluar. Maksudnya, hal kecil yang ingin diceritakan pasti terucap. Tanpa harus takut si lawan bicara menceritakan lagi pada orang lain. Tentu saja, lagi-lagi karena lawan bicaranya adalah diri kita sendiri. 

Kekurangannya hanya satu, dianggap gila oleh orang lain. Tapi aku ngga peduli sih, karena itu caraku untuk (setidaknya) membuat diriku tenang, nyaman dan lega. Setiap orang punya punya caranya sendiri kan dengan 'me time'-nya? :)

"keuntungan dari berbicara dengan diri sendiri adalah anda tahu setidaknya diri anda sendiri mendengarkan"  Franklin P. Jones, penulis kutipan motivasi Amerika Serikat.



Dan aku menyadari, betapa banyaknya kata 'diri sendiri' dalam tulisan ini. Terlihat kalau mood menulisku memang masih berada dibawah. Jelek sekali. Yasudalah.

No comments:

Post a Comment