Saturday, March 31, 2012

Percakapan dengan Diri Sendiri

Halo Riska, apa kabar?
kabar? Alhamdulillah lumayan

Aku dengar, kamu sedang banyak tugas ya? 

Ahahahahahaha yaaaa begitulah kira-kira. Nasib mahasiswa semester enam sih begini.

Kalau memang benar ada tugas, mengapa kamu diam saja dan melamun?

Aaaaaaaa tugas buat besok membosankan! Ini buku ketiga yang aku rangkum dalam mata kuliah yang sama. Terlebih memang lebih menyenangkan melamun daripada mengerjakan tugas ehehehe.

Pemalas!

Memang. Karena itu sifat dasar manusia, tapi memang kadar malas  dalam diriku terlalu banyak :|

Ah sudahlah, Bagaimana kabar teman-temanmu?

Beberapa dari mereka ada yang sedang tidak enak badan, ada yang sedih, ada yang galau. Tapi kalau sudah bercampur jadi satu, selalu ada tawa didalamnya. Mendadak sembuh kalau kumpul bareng. Gitu sih kata salah satu temanku.

Rumah? Bagaimana komunikasimu dengan orang rumah?

Sebenarnya aku rindu  diam dirumah seharian. Bercanda tawa dengan Ibu, Bapak, Ade juga Yaya. Sedih juga waktu Ibu bilang "asa aneh liat kamu dirumah". Aduh, imej-ku memang lekat dengan jarang diam dirumah. Yaaaa aku pulang malam bukan tanpa alasan. Karena aktivitasku dikampus memang dari pagi sampai sore. Malamnya aku manfaatkan untuk tertawa di ruangan yang mojok itu. Disana, mood jelekku bisa naik seketika melihat perilaku masing-masing dari mereka yang, bodor. Makanya aku betah berada disana :) 

Oooohh begitu. Kalau kisah yang lain? huahahahaha!

Ahahahahahaha! kepo deeeeeh! :p untuk saat ini aku simpulkan rumit.  Mungkin hanya aku yang menganggap seperti itu. Kadang memang sering mempersulit diri sendiri sih. Yaaaa apa yang aku alami sebelumnya tidak sederhana. Juga sekarang :)

Terus dengan semua hal yang aku tanyakan tadi, apa yang ingin kamu lakukan sekarang, Ris?

Sekarang? Aku hanya ingin mengistirahatkan mata sejenak. Ngantuk sueeeeeeeer! Tadi ada demo depan kampus, jadi baru bisa pulang malem :( Tapi gimana, gakan bisa tidur. Tugasnya juga belum beres :(

Kalau begitu, segera kerjakan tugas-tugasmu yang banyak itu, Riska! Semangat ya! Kalau bekerja dengan sungguh-sengguh, hasilnya akan setimpal kok. Ora et Labora yaaaa! :)

Makasih ya, tapi untuk saat ini gada semangatnya. yang ada ngantuk :(

Halaaaaaahhh, dasar tukang tidur!



(Kira-kira seperti itu percakapanku dengan diri sendiri. Gila? Biar. Ada masanya kayak gitu kali -membela diri-)

Saturday, March 24, 2012

Kesal #2


Banyak pertanyaan dari aku buat kamu! Tapi keberanian buat menanyakan semua itu ngga ada. Karena aku takut dengan jawabanmu. Ngok. Dasar sembarangan jadi orang! Aku ingin ribuan pertanyaan itu sudah terjawab, setidaknya sebelum kamu pergi. Itu juga kalau kamu benar-benar jadi pergi kesana. Eh tapi, kamu harus jadi pergi ketempat yang jauh itu, karena aku tau itu impian kamu. Kejar! Masa di tunda terus. Pokoknya kalau kamu pergi, pertanyaan yang ada di memoriku yang minim ini harus terjawab. Jangan pergi dengan meninggalkan ribuan pertanyaan. Hobi sekali bikin orang bingung!
*heeee kenapa jadi gini tulisannya -__-*


#efektugasjurnalismeinvestigasi

Tuesday, March 20, 2012

10.13 PM

Ada kalanya aku ingin mengunci semua pikiran positif yang ada disini (nunjuk kepala). Karena ketika apa yang positif itu tidak kesampaian, rasanya seperti terjun dari ketinggian ribuan meter tanpa menggunakan parasut. Tegang, deg-degan kemudian sakit.

Negatif thinking itu ada baiknya juga. Membuat kita menjadi lebih hati-hati dan tidak berharap banyak. Jeleknya? Bikin takut dalam bertindak, khawatir akan segala hal, terlalu banyak pertimbangan. Tapi aku lebih memilih berpikir negatif, anggap saja itu sebuah antisipasi jika suatu saat angan-angan yang sudah dirancang sangat apik tidak kesampaian.

Karena aku orangnya gampang kesenengan, sekali lagi, lebih baik aku mengunci semua pintu pikiran positif itu. Antisipasi.

Berhenti mendorong untuk terus-menerus kesenengan, Riska. Kamu sudah pernah terperosok sangat jauh, belajarlah dari sana, jangan sampai terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.

Sunday, March 11, 2012

Simpulan yang Salah

Aku terlalu percaya diri dengan mengatakan "aku kenal banget sama kamu, temenan hampir tiga tahun", nyatanya aku salah. Ada beberapa hal yang tidak aku ketahui. Kecanggungan yang diakibatkan oleh rangkaian kata yang aku simpan dan mungkin sudah kamu baca. Aku mengerti, mungkin kamu bingung bersikap "ternyata gini sikap kamu kalo tau yang sebenarnya, padahal udah long time ago loh" begitu pikirku. Ah sudahlah.

Sok banget ya aku, dengan mudahnya menyimpulkan kalau aku sudah mengenalmu dengan baik. Hahahaha! Plis deh, ca! Pertanyaannya sekarang, apa aku menyesal sudah menumpahkan semuanya disini? Semua rangkaian kata dan cerita yang mengakibatkan canggungnya sikapmu padaku? Aku jawab, tidak. Sekali lagi, aku tidak menyesal.

Semua yang aku tumpahkan bukan tanpa pertimbangan. Ini diari yang bisa dibaca oleh semua orang, termasuk si 'tersangka'. Jadi kalau kamu merasa sebagai 'tersangka' yaaaa bagaimana lagi? Hanya satu hal yang aku sesali. Terlalu cepatnya aku menyimpulkan 'sudah mengenalmu dengan baik' dan itu membuatku rindu dengan aktivitas yang biasa kita lakukan. 'Heureuy kuli', menjegal kaki, cubit sana sini, nyentil, rebutan makanan. Aku kangen dengan pertemanan kita, andri. Aku paling tidak ingin memiliki seonggok manusia bernama musuh. Aku benci itu.

Kamu tau? Satu setengah tahun mungkin waktu yang singkat untuk sekedar menyukai seseorang tapi menurutku itu sudah cukup. Karena aku mengenal kata berhenti. Kini takaran sudah kembali pada titik nol, titik dimana pertama kali kita kenal. Tak ada yang spesial disana, diruangan sensitif bernama hati.

Entah apa ini namanya, yang jelas aku ingin aktivitas pertemanan kita kembali lagi. Hanya itu, Andri.

Tuesday, March 6, 2012

ngeeeeeeeeengg~

Aku : Aku bingung Aaaaaaaaaa!
Reptor : bingung? pegangan atuh biar ngga lepas
Aku: pegangan aku itu yang bikin bingung, jadi aku gatau harus pegangan ke siapa
Reptor: Wuuuuuu curhaaaat!
Aku : Ahahahahahahah! Atulaaaaaahhh

Ah sudahlah, terlalu banyak kebingungan yang kamu kasih ke aku. Telen aja deh yaaaaa. Dasar aneh -__________- #teu