Huuss Huuusss!

December 31, 2011

Senin beberapa minggu yang lalu, aku dan Vika mampir ke pameran buku di Landmark Building, Jl Braga. Buat tugas sih, wawancara penerbit gitu. Tapi sambil menyelam minum air, aku nyari buku-buku yang bagus juga. Nemu deh ini, "Ranting Jangan Mudah Patah" karangan Ericka Cintra Sejati.




Baca ini menurutku so sweet meski jika aku menjadi Sabilla yang tiba-tiba hubungannya dengan Runo berhenti ditengah jalan menjelang hari pernikahan, bakal lebih down dari yang di gambarkan oleh penulis. Tapi setelah membaca sampai akhir, ooohh ternyata begitu. Mungkin jalan ceritanya bisa ditebak dan ada beberapa part yang agak aneh gitu ehehehe. Tapi dengan gaya bahasa yang enak, aku membacanya pun sangat menikmati :)

Kutipan-kutipan yang ada disetiap halaman menuju bab baru membuatku berpikir sejenak. Oke banget kata-katanya!

Satu - Kenalkan, seorang lelaki yang aku janjikan. Aku berterimakasih kepada Tuhan karena sempurnaku adalah sekarang. Sekarang dan nanti

Enam - Akulah si gadis penuh harapan. Yang terbayang adalah kami bertemu lagi. Beradu mata lagi.

Sepuluh - Ada banyak hal yang ingin kujaga agar tetap bersama denganku. Termasuk dirimu.

Ada juga dialog antara Sabilla dengan Reno saat sang lelaki hendak melamar wanita pujaannya. Sederhana, tapi manis:

Runo (menulis dalam pesan singkatnya) : aku menuju rumahmu
Sabilla : Aku panik!
Runo : Kenapa? Aku sudah mencukur kumisku kok. Harusnya aku yang panik.
Sabilla : Hahahaha! Kenapa?
Runo : Karena lemak ditubuhmu masih terkumpul sekarang.

Simpel. Tapi aku suka. Sweet :)

Ada lagi, masih dalam bagian prosesi lamaran saat sang gadis baru boleh bertemu dengan pasangannya jika sudah dipanggil keluar:

Runo (menulis pesan singkat) : Jangan keluar!
Sabilla : Memangnya kau yang akan memberitahu kapan aku harus keluar?
Runo : Begitu sepertinya. Katanya kau boleh keluar kalau berat badanmu sudah turun. Sudah ada timbangan diruangan ini, jangan panik!
Sabilla : Menyebalkan!

Ada beberapa hal yang agak mirip dengan apa yang aku bayangkan, alami, dan sedikit persamaan soal yaaa itulah. Bukan soal berakhirnya hubungan Sabilla dengan Runo menjelang hari pernikahannya (amit-amit itu mah. Yaaa walaupun mereka bersatu lagi).
Bayangan atau tepatnya impian yang dulu sempat aku rangkai. Anak itu yang merantau ke negeri antah berantah, aku yang selesai kuliah, dilamarnya setelah wisuda, menikah, anak kembar. Jauh memang, saaaaangaaaaat jauh! Seharusnya aku bisa membatasi imajinasiku yang terlalu tinggi. Eh tapi, mana ada imajnasi yang terbatas? Impian dan harapan itu tak mengenal batas, ca! *membela diri*

Ada apa sebenarnya? Isi novel dengan apa yang aku bayangkan, aku alami dan Sabilla, Reno, dia banyak persamaannya *mulai si ica penyakit nyama-nyamainnya keluar*. Apa ini pertanda? Syyyuuuhhh!! Huuussss huuusssss! Jangan berpikir terlalu jauh, ca.

Kini, layaknya pencegahan demam berdarah, aku harus menguras seluruh impian itu dalam ingatan *meski sulit*, lalu menguburnya dalam-dalam dan menutup rapat-rapat. Bukannya aku tidak ingin berpositif thinking tapi aku hanya realistis dengan apa yang terjadi saat ini. Jaga-jaga lebih baik bukan? :)

You Might Also Like

0 komentar

Teman-teman

Popular Posts

Part of