Ketika hati mengatakan untuk 'berhenti'

October 17, 2011

Untukmu yang mengisi hatiku selama hampir satu setengah tahun..

Mungkin kamu sadar, atau mungkin tidak dengan perasaanku. Namun aku sudah memendam rasa ini semenjak hari itu. Hari dimana kita menonton sebuah film action bersama empat orang teman di salah satu mall. Sikap dan sifatmu mirip dengan ayahku, hal itu yang membuat aku menaruh perhatian lebih.
Aku tau banyak hal tentangmu, bagaimana tidak. Kamu sering menceritakan tentang semua yang kamu alami dulu dan sekarang. Ya, kita adalah teman dekat sejak masuk dunia perkuliahan. Perempuan yang kamu sukai, pakaian, kendaraan, makanan, alergi, keluarga, musik, masalah kuliah dan tentu saja gadget. Semua itu kamu suguhkan dengan kemasan yang apik.

Satu tahun lebih mungkin waktu yang sebentar untuk ukuran menyukai lelaki secara diam-diam. Namun aku merasa sudah waktunya aku berhenti. Berhenti memberikan perhatian lebih (dengan caraku sendiri tentunya), berhenti 'mencampuri' urusanmu, dan berhenti menyukaimu. Dalam rentang waktu yang sebentar itu aku tak kunjung mendapatkan sesuatu yang positif. Mungkin ada, namun aku selalu berpikir bahwa kamu menganggapku sebagai teman-baik. Lalu, buat apa aku berharap lebih?

Dalam waktu tiga bulan aku sudah bisa menstabilkan perasaanku. Itu kemajuan yang sangat pesat. Tidak lagi mencarimu jika aku sedang dikampus, tidak lagi mengecek timeline twittermu, tidak lagi merinding jika kamu melintas dibenakku, tidak lagi ada rasa deg-degan ketika bertemu atau bercanda tawa denganmu. Hanya rasa senang, berterimakasih dan senyuman yang tersisa jika aku bertemu atau mengingatmu.
Senang karena saat aku menyukaimu dulu, kamu telah mewarnai tiap langkah dalam satu tahun lebih dengan berbagai tingkahmu yang, ngangenin.
Berterimakasih karena kamu mengajarkan agar aku menjadi pribadi yang lebih sabar menghadapi sikapmu yang ketus, cuek, moody walau sudah dipastikan kamu tidak sadar tentang itu.
Dan senyuman lucu karena aku pernah menyukai kamu, teman terdekatku.

Aku sengaja tidak memberitahumu soal ini, tidak terbayang efeknya jika aku mengutarakan. Karena belum tentu kita masih bisa bercanda tawa seperti sekarang. Jika kamu membaca tulisan ini dan sadar bahwa ini tentang kamu, bisa kan sikapmu seperti biasanya? Tetap menjadi andri yang aku kenal :)



-herliafifah-

You Might Also Like

0 komentar

Teman-teman

Popular Posts

Part of